HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : UJUNG - UJUNGNYA DUIT

Fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta sejak akhir tahun 1970 an hingga kini telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Saudi.

HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.

TANTANGAN DAN SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM

'Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :

Walisongo Islamkan Nusantara - JIN Nusantarakan Islam '

alah satu Tak-Tik dalam Strategi Devide et Impera, yaitu Politik Adu Domba yang dilakukan Penjajah Belanda di Indonesia, adalah membenturkan Hukum Islam dengan Hukum Adat.’uddin.

Toleransi Antar Umat Islam

Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :

Ibnu Taimiyah Dan Ahlul Bait

Kitab Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaami Asy-Syii’ah wa Al-Qoadariyyah adalah karya Asy-Syeikh Ahmad b Abdul Halim b Abdissalam rhm (671 – 728 H) yang masyhur dengan sebutan Ibnu Taimiyah. Kitab tersebut banyak dikaji dan ditakhrij oleh Ulama, salah satunya ditakhriij oleh Muhammad Aiman Asy-Syabroowi, terbitan Darul Hadits – Cairo – Mesir, 4 jlid 8 juz dengan total 2.400 halaman, cetakan tahun 1425 H / 2004 M.

Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

Rabu, 11 Maret 2015

Toleransi Antar Umat Islam



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...
Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :
Pertama, Prof.DR.Yusuf Al-Qordhowi Ketua Persatuan Ulama Islam Dunia, menyatakan bahwa istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam kurang tepat, karena kata Madzhab berkonotasi Fiqih, sedang Khilaf dalam Fiqih dianggap sudah selesai, dan tidak lagi menjadi penyebab perpecahan umat Islam, serta dalam masalah Fiqih sudah terbangun dengan baik saling pengertian di antara umat Islam. Menurutnya, istilah yang lebih tepat adalah At-Taqriib Bainal Firoqil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Firqoh Islam, karena kata Firqoh  lebih fokus kepada Aqidah, dan memang Khilaf dalam Aqidah inilah yang belum selesai, dan telah membuat umat Islam masih terpecah belah hingga kini, bahkan saling menyesatkan dan mengkafirkan antara Firqoh, sehingga perlu dibangun upaya Taqrib Antar Firqoh Islam.
Kedua, Prof.DR.Kamaluddin Nurdin Marjuni, MA, seorang Guru Besar Aqidah dan Filsafat asal Indonesia di USIM (Universitas Sains Islam Malaysia), mengkritisi istilah Taqriib yang artinya Pendekatan, menurutnya istilah Taqriib yang artinya Pendekatan berkonotasi penyatuan Madzhab, sehingga sering disalah-pahami oleh umat Islam sebagai upaya penyatuan Madzhab-Madzhab Islam menjadi satu Madzhab saja, atau pemaksaan suatu madzhab kepada pengikut madzhab yang lain. Karenanya, menurutnya yang lebih tepat adalah istilah Tasaamuh yaitu Toleransi, sehingga bisa dipahami sebagai upaya membangun saling pengertian dan saling menghargai serta saling menghormati antar pengikut madzhab, tanpa menyatukan madzhab-madzhab yang ada, apalagi memaksakan suatu madzhab kepada pengikut madzhab lain. Jadi, istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam seyogyanya diubah menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab Islam.
ISTILAH UNIVERSAL
Kedua Kritik tersebut sangat ilmiah dan argumentatif serta tulus untuk mewujudkan dan membangun Ukhuwwah Islaamiyyah di antara umat Islam dalam aneka perbedaan paham Fiqih mau pun Aqidah selama tidak keluar dari batasan Ushuluddin yang sangat prinsip dan mendasar baik dalam Aqidah, Syariat mau pun Akhlaq.
Karenanya, berangkat dari kedua kritik akademik tersebut, maka istilah yang patut dipilih disini adalah At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam. Disini kata Madzhab tetap dicantumkan, karena masalah Fiqih hingga kini masih sering dieksploitasi dan dimanipulasi untuk memecah belah umat Islam, sehingga tetap perlu secara terus menerus dibangun Dialog Antar Madzhab Islam. Apalagi masalah Aqidah, tentunya lebih penting dan teramat darurat untuk dibangun Dialog Antar Firqoh Islam.
Namun demikian, terlepas dari perbedaan dan kritik istilah di atas, maka istilah yang lebih universal adalah : At-Tasaamuh Bainal Muslimiin yaitu Toleransi Antar Umat Islam.
MEMBANGUN TOLERANSI
Dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam maka yang pertama harus dilakukan adalah menghidupkan Dialog Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, secara ilmiah dan berakhlaqul karimah. Dialog adalah Pintu Gerbang untuk menumbuhkan saling pengertian antar penganut Madzhab dan Firqoh Islam, serta menjadi media untuk menyampaikan pendapat suatu Madzhab atau Firqoh dan mendengarkan pendapat Madzhab atau Firqoh lain. 
Allah SWT telah membimbing Nabi-Nya untuk selalu membuka diri dalam berdialog dengan orang-orang kafir. Bahkan Allah SWT memberi petunjuk dan arahan kepada Rasulullah SAW bahwasanya berdialog dengan orang-orang kafir dalam rangka berda’wah harus dengan cara yang terbaik, sebagaimana firman-Nya SWT dalam QS.16.A-Nahl ayat 125 :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya :  ”Serulah (Ahlul Kitab) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah (debatlah / dialoglah) mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnysa Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Nah, jika berdialog dengan orang-orang kafir saja harus dengan cara yang Terbaik, apalagi berdialog dengan sesama muslim. Dialog Lintas Agama saja harus dengan cara yang ramah dan santun, apalagi Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, termasuk Dilaog dengan Syi’ah dan Wahabi.
Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Selasa, 10 Maret 2015

HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
Bismillaah Wal Hamdulillaah ...

Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.

Semangat Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk Taqrib (pendekatan antar Madzhab Islam) dan Wihdah (persatuan umat Islam) serta Tasaamuh (Toleransi Antar Umat Islam), tidak hanya terbatas pada tataran wacana, akan tetapi sejak lama sudah menjadi bagian dari perjuangan da’wah mereka.

Bahkan dari kalangan Aswaja pernah lahir fatwa dari seorang Ulama sekelas Syeikh Mahmud Syaltut rhm tentang bolehnya ta’abbud dengan cara madzhab di luar Aswaja, yaitu Madzhab Ja’fari. Dan fatwa serupa juga dikeluarkan oleh Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di kalangan luar Aswaja, karena memang tidak pernah ada seorang Ulama pun yang sekaliber Syeikh Mahmud Syaltut atau Syeikh Ali Jum’ah dari kalangan Non Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Syi’ah atau Wahabi, yang berfatwa tentang bolehnya ta’abbud dengan cara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

ULAMA ASWAJA DAN PERADABAN DIALOG

Sederetan Ulama Ahlus Sunnah pada masa lalu telah membuktikan semasa hidupnya secara terus menerus membangun Peradaban Dialog antar Madzhab dan Firqoh Islam untuk pendekatan dan persatuan, antara lain : Al-Imam Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi rhm, Al-Imam Asy-Syathibi Al-Maliki rhm, Al- serta Imam Al-Ghozali Asy-Syafi’i, hingga Ibnu Taimiyah Al-Hanbali pun di akhir usianya termasuk yang paling semangat menyerukan persatuan melalui Rosaa-ilnya. Rodhiyallaahu ‘anhum.

Lalu dilanjutkan oleh para Ulama Aswaja di abad ini, antara lain : Syeikh Abdul Majid Salim, Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Syeikh Hasanain Makhluf, Syeikh Hasan Al-Banna, Syeikh Mahmud Syaltut, Syeikh Al-Maroghi, Syeikh Al-Fahham, Syeikh Mushthofa Abdur Rozzaq, Syeikh Al-Luban, Syeikh Salim Al-Bisyri, Syeikh Sa’id Hawa, Syeikh Abdul Karim Zaidan, Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, Syeikh Abdul Wahhab Khollaf, Syeikh Anwar Al-Jundi, Syeikh Mushthofa Asy-Syak’ah, Syeikh Salim Al-Bahansawi, Syeikh Abdul Muta’al Al-Jabri, Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Rohimahumullaahu Ta’aalaa.

Hingga masa kini pun, keseriusan para Ulama Ahlus Sunnah dalam membangun Peradaban Dialog untuk membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, masih terus ditunjukkan oleh sederetan Tokoh Ulama Aswaja kelas dunia seperti Syeikh Wahbah Zuhaili, Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, Syeikh Ali Jum’ah, Syeikh Muhammad Ath-Thayyib, dan lain sebagainya. Bahkan jauh sebelum itu, para Ulama Besar Ahlus Sunnah wal jama’ah dari berbagai madzhab telah mengingatkan tentang Bahaya Takfir antar kaum muslimin dan pentingnya Toleransi antar Madzhab dan Firqoh Islam.

Dan Ulama Habaib dari Hadromaut – Yaman pun tidak ketinggalan dalam membangun Peradaban Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam untuk membanguan Toleransi antar umat Islam, antara lain : Al-Habib Abu Bakar b Abdurrahman Syihab (w : 1341), Al-Habib Muhammad b Ahmad Asy-Syathiri (w : 1331 - 1422 H ) dan Al-Habib Abu Bakar b Ali Al-‘Adani Al-Masyhur ( Lahir : 1365 H / 1946 M )

MU’TAMAR ‘AMMAAN DAN DAUHAH

Keseriusan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk membangun Toleransi Antar Umat Islam semakin hari semakin besar, hingga digelarnya Mu’tamar Sunnah – Syiah – Ibadhi di ‘Amman – Yordania pada November 2004, yang kemudian berlanjut di Dauhah – Qathar pada Januari 2007.

Dalam Mu’tamar Sunnah – Syiah – Ibadhi di ‘Amman – Yordania telah disepakati tiga hal pokok sebagai syarat mutlak dalam membangun Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :

a. Bahwa pengikut madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), serta madzhab Zhohiri, Ja’fari, Zaidi dan Ibadhi adalah muslim, maka dilarang mengkafirkannya. Begitu pula dilarang mengkafirkan pengikut Asy’ari dan Maaturidi, serta pengikut Tashawwuf yang hakiki dan pengikut Salafi yang shahih, karena mereka semua adalah umat Islam.

b. Dilarang berfatwa atas orang yang bukan ahlinya dan setiap madzhab harus mengikuti Metodologi Ijtihad yang diakui dalam madzhabnya, agar tidak lahir fatwa liar yang saling mengkafirkan antar Madzhab Islam.
Selanjutnya dalam Mu’tamar Sunnah – Syi’ah – Ibadhi di Dauhah – Qathar telah disepakati tiga hal pokok lainnya sebagai syarat mutlak untuk mewujudkan Taqrib dan Wihdah kaum muslimin, yaitu :

a. Dilarang menghina atau melecehkan segenap Ahlul Bait Nabi SAW termasuk semua isterinya, dan seluruh shahabat Nabi SAW tanpa terkecuali, serta hal lain yang dimuliakan oleh setiap madzhab.

b. Dilarang melakukan Missionaris Madzhab tertentu di wilayah / negeri madzhab yang lain.

c. Mendorong Ulama dan Umara negeri-negeri Islam untuk menggalakkan Dialog Ilmiah yang berakhlaqul karimah antar Madzhab Islam.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Sumber : www.habibrizieq.com

TANTANGAN & SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ...

Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :

1. Adanya ”kelompok ekstrim” dari berbagai kelompok Islam yang suka mengkafirkan sesama muslim yang tidak sependapat dengan mereka, sehingga mereka selalu menolak upaya wihdah atau taqrib atau tasaamuh antar madzhab Islam, bahkan dialog pun mereka tolak, karena mereka hanya menganggap madzhabnya saja yang Islam, sedang selainnya kafir.

2. Adanya ”ketidak-tulusan” dari sementara kelompok Islam dalam membangun peradaban dialog, sehingga ada di antara mereka yang menjadikan upaya Wihdah dan Taqrib hanya sebagai peluang untuk menyebar-luaskan paham kelompoknya di tengah kelompok yang lain.

3. Adanya ”kepentingan politik” lokal mau pun global yang sering melakukan menejment konflik antar madzhab melalui operasi intelijen.

4. Adanya ”kesalah-pahaman” terhadap istilah Wihdah dan Taqrib, sebagian orang menganggap bahwa upaya Wihdah atau Taqrib merupakan upaya menyatukan madzhab atau menghilangkan suatu madzhab dan menggiring kaum muslimin ke madzhab tertentu.

5. Kurangnya ”sosialisasi” hasil-hasil Mu’tamar Antar Madzhab ke tingkat akar rumput, sehingga masyarakat awam masih banyak yang tidak paham tentang etika pergaulan lintas aliran dalam Islam yang disepakati oleh Ulama mereka.

SEPULUH SOLUSI

Berangkat dari hasil Mu’tamar Antar Madzhab di ‘Amman dan Dauhah, dan dengan memperhatikan aneka tantangan tersebut di atas, maka minimal ada Sepuluh Solusi yang bisa ditawarkan untuk membangun At-Tasaamuhu bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Tolerasni Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :

1. Semua Madzhab Islam wajib sepakat dalam masalah-masalah Qoth’iyyaat yaitu masalah-masalah Ushuluddin, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Qoth’i, baik secara Wurud mau pun Dilalah.

2. Wajib menghormati perbedaan pendapat dalam masalah-masalah Zhonniyyat yaitu masalah-masalah Furu’uddin atau Ushul Madzhab, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Zhonni, baik secara Wurud mau pun Dilalah atau keduanya.

3. Semua Madzhab Islam harus sepakat bahwa setiap masalah dalam agama Islam, baik dalam masalah Ushuluddin mau pun Furu’uddin, begitu juga Ushul Madzhab, harus memiliki Dalil Syar’i yang mu’tabar, sehingga bisa dipertanggung-jawabkan secara syar’i.

4. Jangan ada pengkafiran dalam masalah apa pun, kecuali kekafiran yang nyata dan terang serta disepakati oleh semua Ulama tentang kekafirannya, seperti mengingkari Keesaan Allah SWT, meyakini ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, menyatakan Al-Qur'an kurang tidak sempurna, menolak kewajiban Sholat Lima Waktu, dan lain sebagainya daripada Ushuluddin.

5. Jangan melecehkan Muqoddasaat Madzhab, yaitu sesuatu yang diagungkan atau dimuliakan suatu madzhab.

6. Jangan ada Missionaris Madzhab tertentu di wilayah / negeri madzhab yang lain, sehingga tidak boleh ada upaya pen-syiah-an atau peng-wahabi-an negeri Sunni, dan sebaliknya tidak boleh ada pen-sunni-an negeri Syiah atau negeri Wahabi.

7. Jangan ada penindasan terhadap suatu madzhab minoritas di mana pun, sehingga semua Madzhab Islam minoritas tetap boleh hidup di negeri madzhab lain yang mayoritas, walau pun madzhab minoritas tersebut tidak boleh dikembangkan atau disebar-luaskan di negeri madzhab lain yang mayoritas tersebut.

8. Menggalakkan Dialog Ilmiah antar Madzhab dan Firqoh Islam secara elegan dan berakhlaqul karimah, dan mengganti istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam.

9. Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam dilakukan dengan Ikhlas dan Tulus tanpa Taqiyah atau kepura-puraan.

10. Sosialisasikan hasil Dialog hingga tingkat akar rumput semua madzhab.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Sumber : www.habibrizieq.com

Sabtu, 10 Januari 2015

Tetap Istiqomah dan Tidak Berpihak pada Kedzaliman

Allah Swt berfirman :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Huud 112).

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali amu tiada mempunyai seorang penolongpun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”
(QS. Huud 113).

Istiqomah dhadapan Kedzaliman
Ayat tentang Istiqomah ini adalah ayat yang paling berat konsekwensinya. Yakni, penerimaan kita terhadap perintah untuk tetap beristiqomah, khususnya dalam pelaksanaannya manakala harus bersikap menghadapi orang-orang zalim, termasuk penguasa, sebagaimana disebut dalam ayat berikutnya.

Diriwayatkan oleh at Tirmidzi dari Ibnu Abbas bahwa Abu Bakar ra berkata kepada beliau saw : Wahai Rasulullah saw kami melihat anda beruban (pertanda tua). Beliau saw menjawab : telah membuat aku beruban (tua) Surat Huud dkk. Dan dikatakan bahwa sesungguhnya yang membuat beruban (tua) Rasulullah SAW dari surat Huud adalah firmanNya : “……. fastaqim kamaa umirta” Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar!

Imam Az Zamakhsyari dalam tafsir Kasysyaf Juz II/416 menyebut bahwa Ibnu Abbas mengatakan : Tidak ada ayat di seluruh Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah saw yang lebih berat dan lebih sulit dari pada ayat ini.

Allah SWT meminta Nabi saw agar bersikap istiqomah. Dia berfirman : fastaqim ; “Bersikaplah istiqomah”. Tuntutan Allah SWT kepada Nabi Muhammad dan umatnya agar terus menerus di jalan yang lurus tanpa menyimpang ke kiri dan ke anan. Untuk itu seorang muslim harus senantiasa waspada, selalu menilai halal-haram, mendisiplinkan perasaan yang mau melenceng sedikit atau banyak.

Menurut Imam Az Zamakhsyari (idem), lafazh waman taba ma’aka mengandung pengertian bahwa seruan bersikap istiqomah itu juga ditujukan kepada orang-orang yang telah bertaubat dari kekufuran dan beriman kepadamu (wahai Muhammad saw).

Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Sufyan bin Abdullah as Tsaqafi berkata : Aku berkata wahai Rasulullah saw : Katakanlah kepadaku dalam Islam, suatu ucapan yang aku tak akan bertanya lagi tentang hal itu sesudahmu. Rasulullah saw menjawab : “Katakanlah : Aku beriman kepada Allah, lalu tetapilah”

Istiqomah Bukan Berlebihan
Bersikap istiqomah bukan berarti bersikap berlebihan. Allah SWT  berfirman : Walaa tathghau –janganlah kalian melampaui batas. Artinya janganlah kalian melampaui batas-batas hukum Allah SWT. Larangan ini diberikan setelah perintah untuk istiqomah adalah sebagai antisipasi agar manusia tidak berlebihan, sehingga mempersulit pelaksanaan aturan agama Allah (diinullah). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah 185).

Tidak Boleh Berpihak Kepada Orang Zhalim
Salah satu tanda sikap istiqomah seseorang adalah manakala dirinya diminta untuk mendukung atau paling tidak menyetujui dan diam atas tindakan kezaliman yang dilakukan seseorang. Allah SWT berfirman walaa tarkanuu ila janganlah cenderung. Lafazh Walaa tarkanuu berasal dari kata ar rukun yang artinya bersandar dan diam pada sesuatu serta ridha kepadanya.

Ibnu Juraij mengatakan janan cenderung kepadanya, Qathadah  mengatakan : Jangan bermesraan dan jangan mentaatinya, Abu Aliyah mengatakan : Jangan meridloi perbuatan-perbuatannya.

Larangan cenderung tersebut ditujukan kepada orang-orang mukmin agar tidak cenderung terhadap orang-orang yang melakukan tindakan kezaliman. Allah SWT berfirman alladziina dzolamu orang-orang yang berbuat zalim yakni, ahli perbuatan syirik dan maksiat, orang-orang kasar yang melampaui batas, orang-orang yang puna kekuatan dan kekuasaan mereka.

Allah melarang cenderung kepada mereka karena dalam kecenderungan itu terkandung pengakuan atas kekufuran, kedzaliman dan kefasikan mereka. Pengakuan itu dipandang sebagai peran serta dalam dosa dan siksa.

Imam Sufyan at Tsuari berkata : Di neraka Jahanam nanti ada satu lembah yang tidak dihuni oleh orang kecuali para pembaca Al Qur’an yang suka berkunjung kepada raja. Imam Auzai mengatakan : Termasuk yang dibenci oleh Allah adalah ulama yang suka berkunjung kepada penguasa.

Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi Rasulullah saw bersabda : Siapa yang berdo’a atau mengajak orang zalim tetap berkuasa, maka dia telah menyukai orang itu bermaksiat kepada Allah di bumiNya.

Imam Az Zamakhsyari (idem) mengutip riwayat yang menyebut bahwa ketika Imam Az Zuhri bergaul dengan para penguasa yang terkenal tidak memenuhi hak-hak masyarakat dan tidak meninggalkan kebatilan, maka ada seseorang mengirimi surat nasihat kepadanya agar menjauhi fitnah.

Dalam suratnya itu antara lain dia menyebut bahwa tindakan bergaul rapat dengan penguasa zalaim itu akan menimbulkan konsekwensi akan dijadikan oleh para penguasa itu sebagai poros (legitimasi) beredarnya kebatilan yang mereka lakukan, jembatan (pengakuan) atas bencana yang mereka timbulkan, dan sebagai tangga (pembenaran) atas kesesatan mereka, juga akan menimbulkan keraguan para ulama, dan akan menjadi tambatan atau ikutan orang-orang bodoh.

Orang itu menutup surat dengan kalimat : “Betapa banyak (keuntungan) yang mereka ambil dari anda disamping kerusakan yang mereka timbulkan kepada anda”.

Ancaman Allah Jika Berpihak Kepada orang Zhalim
Allah SWT tidak hanya melarang kita berbuat cenderung dan berpihak kepada pelaku perbuatan zhalim, tapi juga mengancam dengan siksa yang pedih. Allah SWT berfirman : Fatamassakumunnaar “ --- maka neraka akan membakar kalian!.

Sentuhan api neraka yang super panas akan disarakan lantaran pergaulan dan persahabatan kalian dengan mereka. Juga sikap yang tidak menolak perbuatan mereka dan bahkan berpihak kepada perbuatan mereka dan itu semua dihitung sebagai tindakan penyimpangan kalian dari jalan hidup yang lurus.

Ancaman Allah SWT berupa azab jahanam itu tidak main-main. Sebab Allah SWT memberikan keterangan (haal) dalam afazh ancaman sentuhan api neraka itu dengan firmanNya : Wamaalakum minduunillahi min auliya, yakni tak ada teman kalian yang sanggup menolak azab Allah SWT yang pedih itu. Lalu kalian dijauhkan dari pertolongan siapapun sebagaimana firmanNya : Tsumma laa tunsharuun!

Kesimpulan
Istiqomah dalam situasi apapun adalah tuntutan Allah SWT kepada setiap orang yang beriman kepadaNya, RasulNya dan Dinul Islam. Bersikap tidak cenderung dan berpihak kepada orang-orang yang berbuat kezaliman, termasuk penguasa yang zalim, adalah sikap istiqomah yang harus diimplementasikan dalam kehidupan setiap muslim sebagai pribadi dan kaum muslimin sebagai masyarakat orang-orang beriman.

Jika Islam melarang bagi pemeluknya untuk berpihak kepada para pelaku kezaliman, apalagi terhadap kezaliman yang dilakukan. Wallahu a’lam


red : Aby Mardhatillah

Sabtu, 03 Januari 2015

Presiden Jokowi Ajak Umat Islam Teladani Sifat Nabi Muhammad SAW

 
Sebuah ajakan yang sangat baik. Karena baik, mari kita ikuti dan praktekkan dengan sungguh-sungguh.Ada empat karakter utama Rasulullah yang selama ini kita kenal, dan seharusnya kita teladani bersama:

1. Shiddiq (Benar) = Sesuai perkataan dan perbuatan
Jadi kalau kita melarang orang lain bikin rapat di hotel, kita pun menerapkannya dengan cara tidak bikin rapat di hotel.

2. Amanah = Bisa dipercaya
Jadi kalau kita janji akan mengangkat Jaksa Agung dari kalangan non parpol, pastikan bahwa jaksa agungnya benar2 dari nonparpol. Agar orang2 masih terus mempercayai kita.

3. Tabligh (Menyampaikan)
Sampaikan semuanya secara jujur, transparan, apa adanya.Jadi kalau bikin kartu sakti,sampaikan dengan jelas dan transparan, dari mana sumber dananya, bagaimana proses tendernya,dan sebagainya.

4. Fatonah (Cerdas)
Kalau misalnya kita ditanya tentang peserta demo yang jadi korban pemukulan oleh aparat, jawablah dengan cerdas dan bertanggung jawab, jangan cuma bisanya ngeles, "Itu bukan urusan saya."

Apakah kita sudah meneladani akhlak mulia Rasulullah?

Jumat, 02 Januari 2015

Revolusi Akhlak versus Revolusi Mental


Habib Muhammad Rizieq Syihab
Imam Besar FPI


Revolusi akhlak dan revolusi mental dua hal yang serupa tapi tak sama. Dikatakan serupa karena masalah akhlak sering dikaitkan, bahkan terkadang diidentikkan dengan persoalan mental.

Namun jika dikaji dengan lebih mendalam dan cermat, ternyata akhlak dan mental adalah dua hal yang amat berbeda, bahkan saling bertolak belakang dan berlawanan serta bertentangan.

Revolusi akhlak adalah visi misi kenabian yang dibawa Rasulullah Saw, sebagaimana beliau pernah sabdakan :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

"Sesungguhnya aku telah diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlak."

Sedang revolusi mental adalah istilah yang dipopulerkan oleh Karl Marx dalam mempropagandakan ajaran sosialis dan komunisnya. Dan istilah "Revolusi Mental" pernah dijadikan jargon Partai Komunis Indonesia (PKI) saat kampanye politiknya dalam Pemilu Pertama di Indonesia pada tahun 1955.

Kaum Atheis, baik dari kalangan Marxisme atau Leninisme mau pun Komunisme, menilai bahwasanya agama adalah belenggu bagi kebebasan mental manusia. Dalam pandangan mereka bahwa keyakinan akan adanya Tuhan adalah perbudakan bagi jiwa manusia. Karenanya, manusia harus membebaskan jiwanya dari perbudakan Tuhan melalui revolusi mental, sehingga jiwanya terlepas dari segala belenggu keagamaan dan ketuhanan.

Kaum kiri di seluruh dunia hingga zaman sekarang ini masih berprinsip bahwasanya manusia hanya bisa maju jika telah berhasil membebaskan mentalnya dari kungkungan ajaran agama apa pun. Itulah maksud revolusi mental yang sebenarnya.

Bahkan kaum liberal di seluruh dunia pun saat ini sedang menggandrungi istilah revolusi mental. Sepintas lalu, ini hanya sebuah istilah, tapi sebenarnya ini adalah perang terminologi antara Islam di satu pihak dengan revolusi akhlaknya dan Komunis bersama liberal di pihak lain dengan revolusi mentalnya.

Kini pertanyaan penting dan gentingnya adalah : "Revolusi Mental" yang dicanangkan Jokowi sejak saat kampanye hingga kini, maksudnya apa dan arahnya kemana ???

Wallaahu A'lam

Jumat, 26 Desember 2014

Wanita, Kembalilah kepada Fitrahmu

Perkembangan yang pesat di era globalisasi dengan beragam nilai yang ada, membuat muslimah kebablasan dan kehilangan arah. Sekulerisasi dan globalisasi di setiap sendi kehidupan telah merubah persepsi tentang sosok wanita yang ideal.  Wanita baru dianggap sukses, jika kedudukannya  “sama” dengan pria.

Kian hari kian santer berita yang menunjukkan dekadensi moral.  Hebohnya kasus pedofilia pada anak-anak usia TK, kriminalitas akibat cinta, kejahatan narkoba, tawuran, perzinahan, pembuangan bayi, pelacuran, perkosaan, tingginya tingkat perceraian, dan lain-lain.

Jika para wanita di suatu bangsa telah mengalami kehancuran moral, maka hancurlah bangsa tersebut. Segeralah kembali kepada fitrahmu, wahai wanita!

Feminisme dan Kesetaraan Gender Hancurkan Keluarga

Barat melakukan perang pemikiran sebagai pembuka jalan bagi perang militer, untuk kembali menjajah dan merampas kekayaan kita.  Jika perang militer gagal, pengaruh pemikiran mereka tetap bercokol di kepala pemikir dan cendekiawan muslim.

PBB, salah satu alat mereka, menyelenggarakan KTT-KTT yang mengangkat isu seputar masalah wanita dan hak-haknya.  Hasil keputusan dan kesepakatan yang ala barat,  dipaksakan agar diterima oleh semua anggota PBB dengan pengawasan ketat. Mereka tekan  pemerintahan agar membuat UU dan peraturan ala barat.  Selanjutnya, mereka opinikan bagaimana membangun rumah tangga ala barat. Peran ibu tak lagi menjadi tugas wanita saja, tetapi tanggung jawab masyarakat. Peran itu dapat dilakukan oleh wanita dan laki-laki. 

Di Perancis tercatat 53 % anak-anak yang lahir tak memiliki bapak yang jelas. Di banyak negara Eropa semakin ngetrend enggan mempunyai anak bahkan enggan menikah. Hubungan laki-laki dan wanita hanya hubungan seks bebas.  Mereka menuntut legalitas aborsi.

Angka kriminalitas meningkat sangat tajam. Di Amerika tahun 1998, perkosaan terjadi setiap 6 menit, penembakan setiap 41 detik, pembunuhan setiap 31 menit.  Dana penanggulangan tindakan kejahatan mencapai 700 juta dolar per tahun (belum termasuk kejahatan Narkoba). Angka ini sama dengan pemasukan tahunan (income) 120 negara dunia ketiga.  Menurut catatan UNICEF, 30% kekerasan pada wanita terjadi di Amerika dan 20% di Inggris.

Feminisme dan kesetaraan gender melahirkan generasi yang semakin brutal dan bobrok.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita

Allah telah menjadikan lelaki menjadi pemimpin rumah tangga.  Dia bertanggung jawab menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, dengan menafkahkan sebagian dari harta mereka.  Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf (QS 2: 233).
Lelaki harus menolong isterinya untuk dapat melaksanakan kewajibannya dengan maksimal.  Dia tidak membebani isterinya menjadi wanita multi ganda, sehingga kesulitan menjalankan fungsinya sebagai isteri dan ibu secara maksimal. 

Meskipun demikian, wanita tidak dilarang untuk berkiprah di masyarakat, karena akses dan kesempatan baginya sudah jauh lebih luas.  Yang pasti, wanita tidak harus bekerja untuk menopang ekonomi keluarga.

Tugas Utama Wanita
Ada perbedaan dalam penciptaan lelaki dan wanita.  Lelaki memiliki kesempurnaan dalam kekuatan fisik.  Wanita lebih lemah dari segi penciptaan bentuk tubuh dan tabiat alamiahnya.  Karena wanita mengalami haid, mengandung, melahirkan dan menyusui.  Masing-masing memiliki tugas yang sesuai dengan fisik mereka. “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Bukhari).

Perbedaan bentuk penciptaan ini difasilitasi dengan perbedaan beberapa hukum syariat, serta perbedaan posisi dan peran dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.  Lelaki dominan di sektor publik.  Wanita lebih utama di sektor domestik. Perbedaan peran dan tanggungjawab antara pria dan wanita tidak membuat supermasi pria terhadap wanita, tetapi untuk saling mengisi dan melengkapi.

Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh wanita. Isteri hebat  yang mendampingi lelaki sukses, yang selalu memberi kehangatan dan menciptakan keharmonisan rumah tangga.  Ibu yang menjadi madrasah pertama dan utama, yang akan membentuk akhlak dan pribadi generasi penerus.  Wanita muslimah yang menjalankan tugasnya akan melahirkan para pejuang, syuhada, mujahidin.

Wanita Diciptakan dari Tulang Rusuk yang Paling Bengkok

Nabi saw bersabda, “Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik” (HR Bukhari).  “Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, jika kalian mencoba meluruskannya ia akan patah. Tetapi, jika kalian membiarkannya maka kalian akan menikmatinya dengan tetap dalam keadaan bengkok” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).  "Saling  menasehati untuk   berbuat   baik   kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang  rusuk  yang bengkok” (HR At-Tirmidzi). 

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya” (HR Muslim).

Jika suami ingin meluruskan wanita dengan selurus-lurusnya tanpa kebengkokan, pasti akan terjadi perselisihan dan perpisahan.  Bila suami bersabar dengan keadaan istri yang bengkok (kelemahan akal dan semisalnya), pergaulan keduanya akan berlanjut.
 
Pesan hadits ini, lelaki bisa memahami sifat, karakter dan kecenderungan wanita.  Sehingga bisa bersikap lebih bijaksana, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan wanita.  Tidak keras dan kasar. Tetapi tidak membiarkan wanita, karena akan merugikan keduanya. Wanita harus dijaga dengan baik, tidak didzalimi, diberikan haknya, serta diarahkan kepada kebaikan.  Waspadailah ada 4 golongan lelaki yang akan ditarik masuk ke dalam neraka oleh wanita, karena tidak memberikan haknya, yaitu: ayahnya, suaminya, saudara lelakinya, anak lelakinya.
 
Tulang rusuk yang paling atas adalah yang paling bengkok.  Wanita itu ada kebengkokan dan kekurangan.  Rasul bersabda: “Aku tidak melihat orang orang yang kurang akal dan kurang agama yang lebih bisa menghilangkan akal lak- laki yang teguh daripada salah seorang diantara kalian (para wanita)” (HR. Al Bukhari Muslim).  Kurang akal, karena persaksian dua wanita sebanding dengan persaksian seorang lelaki.  Kurang agama, karena wanita tidak boleh shalat ketika sedang haidh dan nifas..

Allah Swt berfirman: “Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para isteri) secara patut” (QS 4: 19).  Ibnu Katsir menafsirkan: “Halusi ucapan kalian terhadap para isteri dan perbaiki perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila isteri berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah Swt berfirman:“Dan para isteri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”(QS 2: 228).

Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (isteri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (isteri)ku.” Wanita harus selalu di jaga dan di lindungi, karena wanita perlu sekali perlindungan..

Wanita tidak dianggap rendah karena diciptakan dari tulang rusuk.  Karena tulang rusuklah yang melindungi dada, di mana di dalamnya ada jantung yang memompa kehidupan manusia.  Oleh karena itu, isteri memiliki dua tugas.

Pertama, mendorong suami agar kuat dadanya (lambang keberanian dan keperkasaan), sehingga potensinya bisa berkembang berkali lipat. Suami dijaga agar dadanya yang penuh dengan berbagai macam perasaan (benci, cinta, senang, jengkel), bisa tetap menjadi lapang, sehingga selalu bersikap optimis dan dapat menyelesaikan masalah.  Dada yang sempit membuat pesimis, putus asa, tidak semangat dan mudah sakit (QS Thaha: 25, 28). 

Kedua, menjaga hati suami. Hati tempat keimanan dan kebahagiaan. Isteri harus memberi kedamaian dan kebahagiaan suami, sehingga imannya semakin kuat.

Wanita, kembalilah kepada fitrahmu, yang akan membuat dirimu dan umat manusia mulia.

Sikap Tabayyun terhadap Informasi


Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini -seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir- termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah. Apalagi perintah Allah ini berada di dalam surah Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah sehingga Sayyid Quthb mengkategorikannya sebagai surah yang sangat agung lagi padat (surat jalilah dhakhmah), karena memang komitmen seorang muslim dengan adab dan etika agama dalam kehidupannya menunjukkan kualitas akalnya (adabul abdi unwanu aqlihi).

Peringatan dan pesan Allah dalam ayat ini tentu bukan tanpa sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi. Terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini yang pada kesimpulannya turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu. Yang menjadi catatan disini bahwa peristiwa ini justru terjadi di zaman Rasulullah yang masih sangat kental dan dominan dengan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Lantas bagaimana dengan zaman sekarang yang semakin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan?.

Secara bahasa, kata fasiq dan naba’ yang menjadi kata kunci dalam ayat di atas disebut dalam bentuk nakirah (indifinitive) sehingga menunjukkan seseorang yang dikenal dengan kefasikannya serta menunjukkan segala bentuk berita dan informasi secara umum; berita yang besar atau kecil, yang terkait dengan masalah pribadi atau sosial, apalagi berita yang besar yang melibatkan segolongan kaum atau komunitas tertentu yang berdampak sosial yang buruk.

Sayyid Thanthawi mengemukakan analisa redaksional bahwa kata “in” yang berarti “jika” dalam ayat “jika datang kepadamu orang fasik membawa berita” menunjukkan suatu keraguan sehingga secara prinsip seorang mu’min semestinya bersikap ragu dan berhati-hati terlebih dahulu terhadap segala informasi dari seorang yang fasik untuk kemudian melakukan pengecekan akan kebenaran berita tersebut sehingga tidak menerima berita itu begitu saja atas dasar kebodohan (jahalah) yang akan berujung kepada kerugian dan penyesalan. Maka berdasarkan acuan ini, sebagian ulama hadits melarang dan tidak menerima berita dari seseorang yang majhul (tidak diketahui kepribadiannya) karena kemungkinan fasiknya sangat jelas.

Berdasarkan hukumnya, As-Sa’di membagikan sumber (media) berita kepada tiga klasifikasi:
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.

Disini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi yang datang dari seorang fasik, Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukannya. Allah swt berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 18).

Sehingga sikap yang terbaik dari seorang mukmin seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat yang dipelihara oleh Allah saat tersebarnya isu yang mencemarkan nama baik Aisyah ra adalah mereka tetap berbaik sangka terhadap sesama mukmin dan senantiasa berwaspada terhadap orang yang fasik, apalagi terhadap musuh Allah yang jelas memang menginginkan perpecahan dan perselisihan di tubuh umat Islam.

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS. An-Nur: 16).

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Semoga kita mampu menangkap pesan Allah yang cukup agung ini agar terhindar dari penyesalan dan kerugian. Allahu a’lam


sumber: dr.attabiq luthfi/dakwatuna
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com