HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : UJUNG - UJUNGNYA DUIT

Fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta sejak akhir tahun 1970 an hingga kini telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Saudi.

HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.

TANTANGAN DAN SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM

'Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :

Walisongo Islamkan Nusantara - JIN Nusantarakan Islam '

alah satu Tak-Tik dalam Strategi Devide et Impera, yaitu Politik Adu Domba yang dilakukan Penjajah Belanda di Indonesia, adalah membenturkan Hukum Islam dengan Hukum Adat.’uddin.

Toleransi Antar Umat Islam

Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :

Ibnu Taimiyah Dan Ahlul Bait

Kitab Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaami Asy-Syii’ah wa Al-Qoadariyyah adalah karya Asy-Syeikh Ahmad b Abdul Halim b Abdissalam rhm (671 – 728 H) yang masyhur dengan sebutan Ibnu Taimiyah. Kitab tersebut banyak dikaji dan ditakhrij oleh Ulama, salah satunya ditakhriij oleh Muhammad Aiman Asy-Syabroowi, terbitan Darul Hadits – Cairo – Mesir, 4 jlid 8 juz dengan total 2.400 halaman, cetakan tahun 1425 H / 2004 M.

Rabu, 11 Maret 2015

Toleransi Antar Umat Islam



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...
Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :
Pertama, Prof.DR.Yusuf Al-Qordhowi Ketua Persatuan Ulama Islam Dunia, menyatakan bahwa istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam kurang tepat, karena kata Madzhab berkonotasi Fiqih, sedang Khilaf dalam Fiqih dianggap sudah selesai, dan tidak lagi menjadi penyebab perpecahan umat Islam, serta dalam masalah Fiqih sudah terbangun dengan baik saling pengertian di antara umat Islam. Menurutnya, istilah yang lebih tepat adalah At-Taqriib Bainal Firoqil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Firqoh Islam, karena kata Firqoh  lebih fokus kepada Aqidah, dan memang Khilaf dalam Aqidah inilah yang belum selesai, dan telah membuat umat Islam masih terpecah belah hingga kini, bahkan saling menyesatkan dan mengkafirkan antara Firqoh, sehingga perlu dibangun upaya Taqrib Antar Firqoh Islam.
Kedua, Prof.DR.Kamaluddin Nurdin Marjuni, MA, seorang Guru Besar Aqidah dan Filsafat asal Indonesia di USIM (Universitas Sains Islam Malaysia), mengkritisi istilah Taqriib yang artinya Pendekatan, menurutnya istilah Taqriib yang artinya Pendekatan berkonotasi penyatuan Madzhab, sehingga sering disalah-pahami oleh umat Islam sebagai upaya penyatuan Madzhab-Madzhab Islam menjadi satu Madzhab saja, atau pemaksaan suatu madzhab kepada pengikut madzhab yang lain. Karenanya, menurutnya yang lebih tepat adalah istilah Tasaamuh yaitu Toleransi, sehingga bisa dipahami sebagai upaya membangun saling pengertian dan saling menghargai serta saling menghormati antar pengikut madzhab, tanpa menyatukan madzhab-madzhab yang ada, apalagi memaksakan suatu madzhab kepada pengikut madzhab lain. Jadi, istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam seyogyanya diubah menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab Islam.
ISTILAH UNIVERSAL
Kedua Kritik tersebut sangat ilmiah dan argumentatif serta tulus untuk mewujudkan dan membangun Ukhuwwah Islaamiyyah di antara umat Islam dalam aneka perbedaan paham Fiqih mau pun Aqidah selama tidak keluar dari batasan Ushuluddin yang sangat prinsip dan mendasar baik dalam Aqidah, Syariat mau pun Akhlaq.
Karenanya, berangkat dari kedua kritik akademik tersebut, maka istilah yang patut dipilih disini adalah At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam. Disini kata Madzhab tetap dicantumkan, karena masalah Fiqih hingga kini masih sering dieksploitasi dan dimanipulasi untuk memecah belah umat Islam, sehingga tetap perlu secara terus menerus dibangun Dialog Antar Madzhab Islam. Apalagi masalah Aqidah, tentunya lebih penting dan teramat darurat untuk dibangun Dialog Antar Firqoh Islam.
Namun demikian, terlepas dari perbedaan dan kritik istilah di atas, maka istilah yang lebih universal adalah : At-Tasaamuh Bainal Muslimiin yaitu Toleransi Antar Umat Islam.
MEMBANGUN TOLERANSI
Dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam maka yang pertama harus dilakukan adalah menghidupkan Dialog Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, secara ilmiah dan berakhlaqul karimah. Dialog adalah Pintu Gerbang untuk menumbuhkan saling pengertian antar penganut Madzhab dan Firqoh Islam, serta menjadi media untuk menyampaikan pendapat suatu Madzhab atau Firqoh dan mendengarkan pendapat Madzhab atau Firqoh lain. 
Allah SWT telah membimbing Nabi-Nya untuk selalu membuka diri dalam berdialog dengan orang-orang kafir. Bahkan Allah SWT memberi petunjuk dan arahan kepada Rasulullah SAW bahwasanya berdialog dengan orang-orang kafir dalam rangka berda’wah harus dengan cara yang terbaik, sebagaimana firman-Nya SWT dalam QS.16.A-Nahl ayat 125 :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya :  ”Serulah (Ahlul Kitab) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah (debatlah / dialoglah) mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnysa Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Nah, jika berdialog dengan orang-orang kafir saja harus dengan cara yang Terbaik, apalagi berdialog dengan sesama muslim. Dialog Lintas Agama saja harus dengan cara yang ramah dan santun, apalagi Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, termasuk Dilaog dengan Syi’ah dan Wahabi.
Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Misionaris Madzhab


Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...



Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...



Fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta sejak akhir tahun 1970 an hingga kini telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Saudi.



Dan pemerintah Republik Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta sejak awal tahun 1980 an pasca Revolusi Iran hingga kini, juga telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas dan Hauzah (-sejenis pesantren-) di Iran.



Tentu pembagian bea siswa dari Saudi mau pun Iran sangat terpuji dan patut disyukuri, karena sangat membantu para pelajar Indonesia untuk melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi. Hanya saja yang menjadi problem adalah manakala sebagian besar para pelajar tersebut "didoktrin" dengan madzhab dan pemikiran yang tidak dianut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.



Di Saudi banyak pelajar Indonesia di-Wahabi-kan, lalu saat pulang kembali ke Tanah Air mereka membawa misi peng-Wahabi-an umat Islam  Indonesia.



Begitu juga di Iran, hampir semua pelajar Indonesia di-Syiah-kan, lalu saat pulang kembali ke Tanah Air mereka membawa misi peng-Syiah-an umat Islam Indonesia.



Akhirnya, para pelajar tersebut menjadi Misionaris Madzhab Wahabi mau pun Syiah di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Sunni Asy’ari Syafi’i.




MISIONARIS SYIAH, WAHABI DAN LIBERAL



Gawatnya, ketika di kalangan para Misionaris Madzhab tersebut mulai ada ”oknum-oknum” yang berani menyesatkan, bahkan mengkafirkan "Madzhab Asy'ari" sebagai Madzhab Mayoritas yang sudah ada lebih dulu dari mereka di Indonesia, maka Konflik Horisontal antar madzhab pun tidak bisa dihindarkan.



Dan yang lebih gawat lagi, jauh sebelum itu hingga kini, negara-negara Barat pun telah lebih dulu membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Amerika dan Eropa. Tentu kita bangga dan berbesar hati serta berterima kasih manakala para pelajar tersebut di Barat menuntut ilmu di fakultas-fakultas Kedokteran, Tekhnologi dan Sains Modern serta yang sejenisnya.



Namun ironisnya, tidak sedikit dari para pelajar tersebut yang menuntut ilmu di fakultas Islamic Studies (Diraasaat Islaamiyyah) yang ada di berbagai Universitas Amerika dan Eropa.



Disana mereka mempelajari Islam kepada para Dosen "Orientalis" dari kalangan Yahudi dan Nashrani, atau kepada kaum "Oksidentalis" yaitu para Dosen Muslim yang sudah terkontaminasi dengan pemikiran kaum Orientalis.



Akhirnya, saat pulang kembali ke tanah air mereka menjadi Misionaris Liberal yang membawa Misi Liberalisasi agama Islam di Indonesia.



Tentu ke depan, untuk menghadapi kedatangan 1001 Doktor Wahabi lulusan Saudi, dan 1001 Doktor Syi’ah lulusan Iran, serta 1001 Doktor Liberal lulusan Barat, yang menjadi "Misionaris Madzhab" di tengah masyarakat Indonesia merupakan tantangan berat bagi kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) Indonesia.



Apalagi manakala mereka kembali ke Tanah Air sebagai "Cendikiawan" yang diback-up oleh kekuatan asing, lalu mereka masuk melalui jalur akademik untuk menyebarkan madzhab pemikiran mereka di kampus-kampus berbagai universitas. Ditambah lagi banyak dari mereka yang masuk ke jalur Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.




TANTANGAN BERAT ASWAJA



Tantangan Aswaja Indonesia akan semakin berat manakala Gerakan Misionaris Madzhab tersebut ditunggangi oleh Agenda Politik Global.



Misalnya, Kerajaan Saudi Arabia yang bertikai dengan Republik Iran menggerakkan Misionaris Wahabi-nya di seluruh dunia untuk memprovokasi Aswaja agar memerangi Syi’ah secara fisik, sehingga terjadi penyerangan sporadis terhadap penganut Syi’ah di berbagai negara, termasuk Indonesia.



Begitu juga sebaliknya, Republik Iran menggerakkan Misionaris Syi’ah-nya di seluruh dunia untuk memprovokasi Aswaja agar memerangi Wahabi secara fisik, sehingga terjadi penyerangan sporadis terhadap penganut Wahabi di berbagai negara, termasuk Indonesia.



Jika demikian persoalannya, maka pertikaian Wahabi dan Syi’ah lebih berwarna "politis" ketimbang "ideologis". Saudi dan Iran memang sudah sejak lama bertarung memperebutkan dominasi politik dan hegemoni kekuasaan di Timur Tengah khususnya dan di Dunia Islam pada umumnya.



Lebih gawatnya, tatkala Amerika dan Eropa menggerakkan Misionaris Liberal-nya untuk meng-ADU DOMBA Umat Islam di berbagai belahan Dunia untuk kepentingan politik global mereka.



Karenanya, tidak sedikit kaum muslimin yang terprovokasi, sehingga terjadi perang dan pertumpahan darah antara Sunni dengan Syi’ah, Sunni dengan Wahabi, dan Wahabi dengan Syiah, bahkan antara Sunni dengan Sunni, Wahabi dengan Wahabi, dan Syi’ah dengan Syi’ah.



Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji’uun ...



STRATEGI ASWAJA



Menghadapi ancaman dan tantangan yang demikian berat, maka Aswaja perlu segera mengambil langkah-langkah strategis untuk merapatkan barisan dan menyatukan semua potensi kekuatan.



Ke depan tidak bisa tidak Aswaja akan berhadap-hadapan dengan mereka "Face to Face", mulai dari kontak dalil melalui Dialog, bahkan mungkin hingga kontak fisik melalui Perang Konvensional.



Ingat : Saat MUSYRIKIN Quraisy mau pun KAFIRIN Ahlul Kitab mengajak Rasulullah SAW berdialog, beliau hadapi dengan Dialog. Namun saat mereka menghunus pedang memerangi Nabi SAW, maka beliau sambut dengan pedang juga.



Artinya, hadapi musuh dengan seimbang : Lawan Imu dengan Ilmu, Hujjah dengan Hujjah, Logika dengan Logika, Kitab dengan Kitab, Dalil dengan Dalil, Ekonomi dengan Ekonomi, Politik dengan Politik, Siasat dengan Siasat, dan Senjata dengan Senjata.



Itulah karakter Strategi Aswaja.



Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...




KARAKTER ASWAJA



Aswaja harus selalu waspada agar tidak menjadi alat politik dari pihak mana pun, Wahabi atau pun Syi’ah, apalagi Liberal. Aswaja harus tetap pada ciri dan karakter khasnya, yaitu : Muhaayid (Netral) dan I’tidaal (Adil), Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), serta juga Tasaamuh (Toleran).



Penghargaan yang tinggi patut diberikan kepada Universitas Al-Azhar di Cairo – Mesir, karena telah membuka aneka fakultas dari aneka ragam Madzhab Islam untuk para mahasiswanya. Setiap mahasiswa yang belajar di Al-Azhar disalurkan langsung oleh pihak Universitas ke fakultas madzhab yang sesuai dengan madzhab yang dianut oleh negerinya masing-masing, sehingga saat kembali pulang ke negerinya tidak membawa Misi Madzhab baru dan tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab. Para pelajar Indonesia misalnya, langsung disalurkan oleh pihak Universitas Al-Azhar untuk mengikuti fakultas yang bermadzhab Syafi’i, karena Indonesia dikenal di dunia sebagai Negeri Sunni Asy’ari Syafi’i.



Penghargaan yang tinggi juga patut diberikan kepada Guru Besar kami yang mulia dan tercinta Alm. Prof. DR. As-Sayyid Muhammad b Alwi Al-Maliki Al-Hasani rhm di Mekkah, karena walau pun beliau sebagai seorang Ulama Besar yang sangat dihormati di kalangan madzhab Imam Malik rhm, namun beliau tetap mengajar Madzhab Syafi’i kepada ribuan muridnya yang berasal dari Nusantara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Patani di Selatan Thailand dan Sulu mau pun Mindanau di Selatan Philipina, sesuai madzhab yang tersebar di negeri mereka, sehingga para murid beliau tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab di negerinya masing-masing.



Karenanya, akan sangat arif dan bijak jika Saudi dan Iran serta Dunia Islam lainnya mengikuti langkah Universitas Al-Azhar – Mesir dan meneladani apa yang telah dicontohkan para Ulama Sunni, yang tidak memaksakan suatu madzhab kepada para mahasiswa dan santrinya, bahkan membekali mereka dengan madzhab yang dianut oleh negerinya masing-masing, agar di kemudian hari mereka bisa menjadi pemersatu umat Islam, bukan menjadi sumber konflik yang memecah belah kaum muslimin.




UNDANG UNDANG ANTI MISIONARIS MADZHAB



Sudah seyogyanya, Madzhab Minoritas di suatu negeri harus "Tahu Diri", dan Madzhab Mayoritas di negeri tersebut harus "Tahan Diri", sehingga keharmonisan hubungan antar Madzhab Islam bisa terjamin dan berjalan baik. Jika hal tersebut bisa terwujud, maka hubungan antar madzhab di tengah masyarakat Islam bisa berjalan secara alami, sehingga tidak terlalu diperlukan peran serta negara, kecuali hanya untuk turut menjaga keharmonisan tersebut.



Namun, jika Madzhab Minoritas "Tidak Tahu Diri", dan Madzhab Mayoritas "Tidak Tahan Diri",  tentu akan mengundang konflik serius antar Madzhab Islam tersebut, sehingga sangat diperlukan peran serta negara untuk meredam konflik. Dalam kondisi seperti ini, maka perlu dipertimbangkan adanya Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab dalam negara tersebut.




MENCEGAH KONFLIK



Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab tidak dimaksudkan untuk melarang keberadaan suatu Madzhab di suatu negeri dan tidak pula ditujukan untuk menindasnya, akan tetapi hanya untuk melarang penyebar-luasan suatu madzhab di wilayah madzhab lain untuk menghindarkan Konflik Horisontal antar penganut madzhab yang ada di negeri tersebut.



Di Saudi sebagai Negara Wahabi sudah sejak lama melarang penyebaran madzhab apa pun di luar Wahabi, namun Saudi tetap memperkenankan bahkan melindungi warganya yang Non Wahabi. Dan Saudi pun tidak pernah melarang warga Syiah sekali pun untuk tinggal di Saudi dan menunaikan Haji dan Umroh serta Ziarah ke Madinah.



Di Iran sebagai Negara Syiah juga sejak Revolusi melarang penyebaran madzhab apa pun di luar Syiah, namun Iran tetap memperkenankan bahkan melindungi warganya yang Non Syiah.



Dengan demikian, di Saudi  mau pun Iran sudah berlaku sejak lama aturan yang substansinya adalah Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab yang melarang penyebaran madzhab apa pun di luar madzhab yang dianut oleh kedua negara tersebut.



Begitu pula di Malaysia dan Brunei sebagai negara Aswaja Asy’ari Syafi’i sudah berjalan Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab, sehingga kalangan Syiah dan Wahabi diperkenankan dan dilindungi hidup di Malaysia dan Brunei, namun dilarang menyebar-luaskan paham dan ajarannya.




INDONESIA NEGARA ASWAJA



Nah, Indonesia perlu belajar kepada Saudi, Iran, Malaysia dan Brunei tentang pengadaan dan pemberlakuan Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab. Dan Indonesia sebagai Negara Sunni Asy’ari Syafi’i harus berani melarang penyebaram paham dan ajaran apa pun di luar ajaran Aswaja, seperti Syiah dan Wahabi, apalagi Liberal.



Setidaknya di Indonesia mesti ada aturan hukum tentang Larangan Penghinaan terhadap Ahul Bait dan Shahabat Nabi SAW, sehingga siapa pun yang melanggarnya harus diberikan sanksi yang berat, misalnya dipenjara sekurang-kurangnya lima tahun atau hingga ia bertaubat.



Berbahaya sekali jika pemerintah RI membiarkan interaksi Antar Madzhab tanpa aturan, apalagi tatkala Madzhab Minoritas "Tidak Tahu Diri", dan Madzhab Mayoritas "Tidak Tahan Diri".



Bayangkan saja akibatnya : umat Islam Indonesia yang Asy'ari Syafi'i selama ini cinta Ahlul Bait termasuk ayah bunda Nabi SAW, dan sudah tebiasa dengan amaliyah Tawassul, Tabarruk, Ziarah Kubur, Marhabanan dan peringatan Hari Besar Islam. Lalu tiba-tiba muncul "Wahabi Ekstrim" yang memusyrikkan ayah bunda Nabi SAW dan membid'ahkan bahkan mengkafirkan amaliyah Aswaja tersebut. Tentu kalangan Aswaja akan marah, dan itu bisa menimbulkan Konflik Horisontal. Faktanya, beberapa tahun lalu di NTB ada Pesantren Wahabi yang dirusak massa lantaran masalah tadi.



Bayangkan juga akibatnya : umat Islam Indonesia yang Asy'ari Syafi'i selama ini cinta para Shahabat Nabi SAW, bahkan sudah terbiasa "Tarodhdhiy" yaitu membaca "Rodhiyallaahu 'anhu" untuk Shahabat. Lalu tiba-tiba muncul "Syiah Ekstrim" yang secara demonstratif dan konfrontatif serta provokatif memcaci maki para Shahabat Nabi SAW, bahkan mengkafirkannya. Tentu kalangan Aswaja akan marah, dan itu bisa menyebabkan Konflik Horisontal. Faktanya, di Sampang - Madura ada Pesantren Syiah yang dirusak massa lantaran masalah tadi.



Nah, kalau hal seperti ini dibiarkan terus, maka ke depan bisa menjadi penyebab "Tragedi Kemanusiaan" yang sangat mengerikan, berupa Perang Sektarian antar Madzhab Islam, saling serang dan bakar, saling bunuh dan sembelih, seperti yang terjadi di Iraq dan Syria.



Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik ....



Semoga Allah SWT menyatukan umat Islam dan menyelamatkannya dari fitnah adu domba, serta memenangkannya atas semua musuh-musuhnya.



Aaamiiiin .... !
Sumber : www.habibrizieq.com

Selasa, 10 Maret 2015

HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
Bismillaah Wal Hamdulillaah ...

Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.

Semangat Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk Taqrib (pendekatan antar Madzhab Islam) dan Wihdah (persatuan umat Islam) serta Tasaamuh (Toleransi Antar Umat Islam), tidak hanya terbatas pada tataran wacana, akan tetapi sejak lama sudah menjadi bagian dari perjuangan da’wah mereka.

Bahkan dari kalangan Aswaja pernah lahir fatwa dari seorang Ulama sekelas Syeikh Mahmud Syaltut rhm tentang bolehnya ta’abbud dengan cara madzhab di luar Aswaja, yaitu Madzhab Ja’fari. Dan fatwa serupa juga dikeluarkan oleh Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di kalangan luar Aswaja, karena memang tidak pernah ada seorang Ulama pun yang sekaliber Syeikh Mahmud Syaltut atau Syeikh Ali Jum’ah dari kalangan Non Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Syi’ah atau Wahabi, yang berfatwa tentang bolehnya ta’abbud dengan cara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

ULAMA ASWAJA DAN PERADABAN DIALOG

Sederetan Ulama Ahlus Sunnah pada masa lalu telah membuktikan semasa hidupnya secara terus menerus membangun Peradaban Dialog antar Madzhab dan Firqoh Islam untuk pendekatan dan persatuan, antara lain : Al-Imam Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi rhm, Al-Imam Asy-Syathibi Al-Maliki rhm, Al- serta Imam Al-Ghozali Asy-Syafi’i, hingga Ibnu Taimiyah Al-Hanbali pun di akhir usianya termasuk yang paling semangat menyerukan persatuan melalui Rosaa-ilnya. Rodhiyallaahu ‘anhum.

Lalu dilanjutkan oleh para Ulama Aswaja di abad ini, antara lain : Syeikh Abdul Majid Salim, Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Syeikh Hasanain Makhluf, Syeikh Hasan Al-Banna, Syeikh Mahmud Syaltut, Syeikh Al-Maroghi, Syeikh Al-Fahham, Syeikh Mushthofa Abdur Rozzaq, Syeikh Al-Luban, Syeikh Salim Al-Bisyri, Syeikh Sa’id Hawa, Syeikh Abdul Karim Zaidan, Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, Syeikh Abdul Wahhab Khollaf, Syeikh Anwar Al-Jundi, Syeikh Mushthofa Asy-Syak’ah, Syeikh Salim Al-Bahansawi, Syeikh Abdul Muta’al Al-Jabri, Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Rohimahumullaahu Ta’aalaa.

Hingga masa kini pun, keseriusan para Ulama Ahlus Sunnah dalam membangun Peradaban Dialog untuk membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, masih terus ditunjukkan oleh sederetan Tokoh Ulama Aswaja kelas dunia seperti Syeikh Wahbah Zuhaili, Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, Syeikh Ali Jum’ah, Syeikh Muhammad Ath-Thayyib, dan lain sebagainya. Bahkan jauh sebelum itu, para Ulama Besar Ahlus Sunnah wal jama’ah dari berbagai madzhab telah mengingatkan tentang Bahaya Takfir antar kaum muslimin dan pentingnya Toleransi antar Madzhab dan Firqoh Islam.

Dan Ulama Habaib dari Hadromaut – Yaman pun tidak ketinggalan dalam membangun Peradaban Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam untuk membanguan Toleransi antar umat Islam, antara lain : Al-Habib Abu Bakar b Abdurrahman Syihab (w : 1341), Al-Habib Muhammad b Ahmad Asy-Syathiri (w : 1331 - 1422 H ) dan Al-Habib Abu Bakar b Ali Al-‘Adani Al-Masyhur ( Lahir : 1365 H / 1946 M )

MU’TAMAR ‘AMMAAN DAN DAUHAH

Keseriusan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk membangun Toleransi Antar Umat Islam semakin hari semakin besar, hingga digelarnya Mu’tamar Sunnah – Syiah – Ibadhi di ‘Amman – Yordania pada November 2004, yang kemudian berlanjut di Dauhah – Qathar pada Januari 2007.

Dalam Mu’tamar Sunnah – Syiah – Ibadhi di ‘Amman – Yordania telah disepakati tiga hal pokok sebagai syarat mutlak dalam membangun Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :

a. Bahwa pengikut madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), serta madzhab Zhohiri, Ja’fari, Zaidi dan Ibadhi adalah muslim, maka dilarang mengkafirkannya. Begitu pula dilarang mengkafirkan pengikut Asy’ari dan Maaturidi, serta pengikut Tashawwuf yang hakiki dan pengikut Salafi yang shahih, karena mereka semua adalah umat Islam.

b. Dilarang berfatwa atas orang yang bukan ahlinya dan setiap madzhab harus mengikuti Metodologi Ijtihad yang diakui dalam madzhabnya, agar tidak lahir fatwa liar yang saling mengkafirkan antar Madzhab Islam.
Selanjutnya dalam Mu’tamar Sunnah – Syi’ah – Ibadhi di Dauhah – Qathar telah disepakati tiga hal pokok lainnya sebagai syarat mutlak untuk mewujudkan Taqrib dan Wihdah kaum muslimin, yaitu :

a. Dilarang menghina atau melecehkan segenap Ahlul Bait Nabi SAW termasuk semua isterinya, dan seluruh shahabat Nabi SAW tanpa terkecuali, serta hal lain yang dimuliakan oleh setiap madzhab.

b. Dilarang melakukan Missionaris Madzhab tertentu di wilayah / negeri madzhab yang lain.

c. Mendorong Ulama dan Umara negeri-negeri Islam untuk menggalakkan Dialog Ilmiah yang berakhlaqul karimah antar Madzhab Islam.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Sumber : www.habibrizieq.com

TANTANGAN & SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ...

Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :

1. Adanya ”kelompok ekstrim” dari berbagai kelompok Islam yang suka mengkafirkan sesama muslim yang tidak sependapat dengan mereka, sehingga mereka selalu menolak upaya wihdah atau taqrib atau tasaamuh antar madzhab Islam, bahkan dialog pun mereka tolak, karena mereka hanya menganggap madzhabnya saja yang Islam, sedang selainnya kafir.

2. Adanya ”ketidak-tulusan” dari sementara kelompok Islam dalam membangun peradaban dialog, sehingga ada di antara mereka yang menjadikan upaya Wihdah dan Taqrib hanya sebagai peluang untuk menyebar-luaskan paham kelompoknya di tengah kelompok yang lain.

3. Adanya ”kepentingan politik” lokal mau pun global yang sering melakukan menejment konflik antar madzhab melalui operasi intelijen.

4. Adanya ”kesalah-pahaman” terhadap istilah Wihdah dan Taqrib, sebagian orang menganggap bahwa upaya Wihdah atau Taqrib merupakan upaya menyatukan madzhab atau menghilangkan suatu madzhab dan menggiring kaum muslimin ke madzhab tertentu.

5. Kurangnya ”sosialisasi” hasil-hasil Mu’tamar Antar Madzhab ke tingkat akar rumput, sehingga masyarakat awam masih banyak yang tidak paham tentang etika pergaulan lintas aliran dalam Islam yang disepakati oleh Ulama mereka.

SEPULUH SOLUSI

Berangkat dari hasil Mu’tamar Antar Madzhab di ‘Amman dan Dauhah, dan dengan memperhatikan aneka tantangan tersebut di atas, maka minimal ada Sepuluh Solusi yang bisa ditawarkan untuk membangun At-Tasaamuhu bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Tolerasni Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :

1. Semua Madzhab Islam wajib sepakat dalam masalah-masalah Qoth’iyyaat yaitu masalah-masalah Ushuluddin, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Qoth’i, baik secara Wurud mau pun Dilalah.

2. Wajib menghormati perbedaan pendapat dalam masalah-masalah Zhonniyyat yaitu masalah-masalah Furu’uddin atau Ushul Madzhab, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Zhonni, baik secara Wurud mau pun Dilalah atau keduanya.

3. Semua Madzhab Islam harus sepakat bahwa setiap masalah dalam agama Islam, baik dalam masalah Ushuluddin mau pun Furu’uddin, begitu juga Ushul Madzhab, harus memiliki Dalil Syar’i yang mu’tabar, sehingga bisa dipertanggung-jawabkan secara syar’i.

4. Jangan ada pengkafiran dalam masalah apa pun, kecuali kekafiran yang nyata dan terang serta disepakati oleh semua Ulama tentang kekafirannya, seperti mengingkari Keesaan Allah SWT, meyakini ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, menyatakan Al-Qur'an kurang tidak sempurna, menolak kewajiban Sholat Lima Waktu, dan lain sebagainya daripada Ushuluddin.

5. Jangan melecehkan Muqoddasaat Madzhab, yaitu sesuatu yang diagungkan atau dimuliakan suatu madzhab.

6. Jangan ada Missionaris Madzhab tertentu di wilayah / negeri madzhab yang lain, sehingga tidak boleh ada upaya pen-syiah-an atau peng-wahabi-an negeri Sunni, dan sebaliknya tidak boleh ada pen-sunni-an negeri Syiah atau negeri Wahabi.

7. Jangan ada penindasan terhadap suatu madzhab minoritas di mana pun, sehingga semua Madzhab Islam minoritas tetap boleh hidup di negeri madzhab lain yang mayoritas, walau pun madzhab minoritas tersebut tidak boleh dikembangkan atau disebar-luaskan di negeri madzhab lain yang mayoritas tersebut.

8. Menggalakkan Dialog Ilmiah antar Madzhab dan Firqoh Islam secara elegan dan berakhlaqul karimah, dan mengganti istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam.

9. Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam dilakukan dengan Ikhlas dan Tulus tanpa Taqiyah atau kepura-puraan.

10. Sosialisasikan hasil Dialog hingga tingkat akar rumput semua madzhab.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Sumber : www.habibrizieq.com

Senin, 19 Januari 2015

PARA KHALIFAH BERASAL DARI SUKU QURAISY


Bismillahirrahmanirrahim,,

Abu Dawud Ath Thsyslisi dalam Musnadnya berkata, Sakin bin Abdul Aziz berkata kami dari Yasar bin Salamah dari Abu Barzah bahwa Rasulullah Bersabda, 

الا ئمة من قريش إذا حكموا عدلوا، إذا عاهدوا وفوا وإذا استر حموا رحموا

"Para imma itu dari golongan Quraisy, jika mereka memimpin mereka adil, jika mereka berjanji mereka tepati, dan jika dimintai kasih sayangnya, mereka akan memberikan." ( HR. Imam Ahmad, Abu Ya'la dalam Musnad mereka, juga Imam Ath-Thabarani)

Imam Ath-Tirmidzi berkata, Ahmad bin Mani' berkata kepada kami, Zaid bin Al Habbad berkata kepada kami, Muawaiyah bin Saleh berkata kepada kami, Abu Maryam Al Anshari dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah bersabda,

"kekuasaan ada di tanga Quraisy, sedangkan peradilan ada di tangan Anshar dan adzan di tangan orang-orang Habsyah." (Isnad Hadits ini adalah Shahih)

Imam Ahmad dalam Musnadnya berkata, berkata Al Hakim bin Nafi', berkata kepada kami Islmail bin Ayyasy dari Dhamdham bin Zur'ah dari Syuraih dari Katsir bin Murrah dari Utbah bin Abdan bahwa Rasulullah bersabda,

"Khalifah itu ditangan orang Qurasy, hukum di tangan orang Anshar dan dakwah (adzan) di tanga orang-orang Habsyah,"

Al Bazzar berkata, Ibrahin bin Hani kepada kami, Al Faidh bin Fadhl berkata kepada kami, Mis'ar berkata kepada kami dari Salamah bin Kuhail dari Abu Shadiq dari Rabi'ah bin Majid dari Ali bin Abi Thalib dia berkata, Rasulullah bersabda :

 الامراء من قريش أبرارها أمرارء أبرارها وفجارهارها أمراء فجارها

"Para pemimpin dari orang Quraisy, yang bai akan memerintah yang baik, dan yang jahat akan memerintah yang jahat"

dari penjelasan dan beberapa hadits di atas menunjukan bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah golongan Quraisy. Namunh ini tidak menunjukan bahwa jika orang selain Qurisy memangku khalifah batal hukumnya. Dan sabdanya yang berbunyi : jika mereka memerintah mereka akan adil menunjukan bahwa kepemimpinan yang selalu harus ada adalah rasa adil, menepati janji dan kasih sayang.

Wallahu'alam bissowab 

( Kitab Tarikh Khulafa, Imam As Suyuti )

red : Ahmad Syufi
 
 

Sabtu, 17 Januari 2015

Sediakan Wanita Cantik, Karaoke Inul Vista Tangcity Disegel Satpol PP


TANGERANG – Karaoke keluarga Inul Vista di kawasan Mall Tangerang city (tangcity), Kota Tangerang disegel oleh Satpol pp Kota Tangerang, karena selain ijin ganguannya sudah tidak berlaku, juga di dapati menyediakan minuman keras (Miras) serta wanita penghibur, Selasa (13/01/2015).

“Kami memerintahkan satpol PP untuk segera menyegel tempat hiburan itu besok (Rabu, 14/01/2015), karena selain tempat hiburan itu melanggar Perda no 7 dan 8 tahun 2005, tentang pelarangan peredaran miras dan prostitusi, juga ijin gangguannya sudah tidak berlaku,” Kata Asisten Daerah (Asda 1) Kota Tangerang, Syaiful Rohman.

Penyegelan tempat hiburan itu dilakukan, kata Syaiful Rohman, karena tempat hiburan tersebut terbukti sebagai tempat pesta miras. Selain itu, mereka juga menyediakan wanita cantik yang siap menghibur para tamu.

“Dengan menyiapkan miras dan wanita penghibur saja, sudah jelas melanggar. Karena di dalam ketentuan ijin gangguan memang tidak diperbolehkan,” kata Syaiful.

Dan setelah ditindak lanjuti, tambahnya, ternyata ijin gangguan yang mereka kantongi masa berlakunya sudah habis sejak 24 Juni 2014 lalu. Karenanya tempat hiburan itu langsung disegel untuk tidak beroperasi.

Lebih jauh, Syaiful menjelaskan, dengan ditemukannya tempat hiburan karaoke keluarga yang melanggar ketentuan, pihaknya juga meminta kepada Satpol PP agar melakukan razia besar-besaran terhadap tempat hiburan di Kota Tangerang.

“Yang jelas semua tempat hiburan itu harus dioperasi,” kata dia.

Warga Protes, Drainase Jalan KH Hasyim Ashari Menganga


( CIPONDOH ) KOTA TANGERANG - galian drainase untuk mengantisipasi banjir di Jalan KH. Hasyim Ashari, Kelurahan Pelawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, dikeluhkan warga.

Pasalnya, sudah satu bulan proyek tersebut mangkrak. Sedangkan drainase dibiarkan menganga, hingga membahayakan keselamatan pengguna jalan.

"Kondisi ini sudah berlangsung satu bulan. Drainase dibiarkan menganga begitu saja. Alhasil, banyak pengendara yang terperosok ke dalamnya," ujar Ahmad, warga Jalan Alfurqon, Kelurahan Pelawad, Jumat (16/1/2015).

Ahmad berharap, pemerintah bisa melihat langsung kondisi dilokasi, agar bisa meminta pelaksana proyek untuk menuntaskan pekerjaannya.

"Saya berharap galian ini cepat diselesaikan oleh pemerintah. Jangan dibiarkan begitu saja. Khawatir nanti akan semakin banyak korban yang terperosok dilokasi," tambanhya. ( Arsa )

Belasan Tempat Pelacuran di Kampung Ulama Tangerang Dibongkar


TANGERANG-Belasan tempat prostitusi di Kelurahan Selapajang, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang dibongkar aparat gabungan Kepolisian, Satpol PP, dan TNI.
Pembongkaran dilakukan karena tempat tersebut melanggar Perda 8/2005 tentang larangan pelacuran.

Puluhan aparat bersama warga setempat yang terjun ke lokasi membongkar  sekitar 17 rumah semi permanen yang dijadikan tempat mesum tersebut.  Pembongkaran berjalan lancar tanpa perlawanan.

Camat Neglasari Ubaidilah mengatakan, rumah-rumah tersebut disalah gunakan menjadi tempat prostitusi liar sejak tahun 2002.
Sebelumnya telah berkali-kali dilakukan dilakukan penertiban dan penyegelan tapi kembali dibuka.

“Karena itu semua kita robohkan bangunan-nya,  supaya tidak bisa lagi digunakan untuk tempat maksiat, Kita malu, ini kan Kampung Ulama. Kita juga kasihan sama anak-anak yang ada di sini,” tukasnya, Jumat (16/1)

Menurutnya, awalnya pemilik tanah, H Aspa mengizikan warga membangun tempat tinggal di sini karena merasa kasihan. Namun seiring berjalannya waktu, mereka membangun tempat prostitusi.
“Mereka mengaku tak punya rumah. Tapi malah dibangun tempat prostitusi dan itu tanpa sepengetahuan pemilik tanah,” tukasnya.

Peziarah Padati Makam Keramat di Tigaraksa


TANGERANG-Ratusan peziarah memadati  makam Keramat Syekh Mubarok di Desa Pete, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang  pada  Jumat (16/1/2015) malam.  Pada makam tersebut semalam memang dilaksanakan Haul Syekh Mubarok serta Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Seyogyanya, acara haul itu dihadiri Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar. Namun, karena ada kegiatan lain. Maka orang nomor satu di Kabupaten Tangerang tidak bisa hadir  dan diwakilkan Camat Tigaraksa Mas Yoyon Suryana.

"Salam hangat dari Bupati Tangerang," ujar Mas Yoyon Suryana sebelum membacakan sambutan Bupati Tangerang.

Dalam sambutannya, Mas Yoyon Suryana mengatakan, Nabi Muhammad adalah tauladan umat dengan sifat-sifatnya seperti tablig, siddiq, amanah dan fathonah. "Nabi bukan hanya memberi contoh, tapi juga menjadi contoh," ucapnya.

Terkait Haul Syekh Mubarok, Pemkab Tangerang mengajak para generasi untuk mengambil hikmah dari perjuangan para ulama dalam menyebarkan Agama Islam.

"Syekh Mubarok merupakan ulama yang harus kita doakan agar semua perjuangan dan ibadah beliau dibalas setimpal dari Allah SWT," kata Yoyon.

Yoyon menjelaskan, makam Syekh Mubarok yang terkenal dengan Makam Keramat memang tidak pernah sepi dari peziarah. Kedatangan peziarah bisa dilihat setiap hari. "Tapi kalau malam Jumat peziarahnya lebih banyak dari malam-malam lainnya," katanya.

Peziarah yang berdatangan ke makam keramat Syekh Mubarok bukan hanya berasal dari wilayah Kabupaten Tangerang. "Warga di luar Kabupaten Tangerang juga banyak berziarah di sini. Terlebih pada bulan Maulud seperti ini," tuntasnya.

Di Balik Laju Perusakan Islam di Indonesia


Umat Islam Indonesia sangat perlu para dai penyelamat akidah

Laju kerusakan akidah di Indonesia lebih cepat dibanding perbaikannya. Di antara faktornya ada dua:

1. Cara memahami Islam di pesantren-pesantren dan masyarakat umum dipotong di tengah jalan, agar tidak sampai pada merujuk kepada Alquran dan As-Sunnah. Caranya, agar cukup dilihat para tokoh agama melakukan atau tidak. Ketika mereka melakukan, berarti itulah agama. Padahal, aneka bid’ah, bahkan kesesatan, yang kemungkinan sampai tingkat syirk akbar dilakukan oleh para tokoh agama. Akibatnya, laju kesesatan lebih cepat dan berkembang dibanding dakwah shahihah, apalagi dakwah yang membendung kesesatan.

2. Cara memahami Islam di tingkat perguruan tinggi yang berlabel Islam dialihkan dari merujuk kepada dalil menjadi merujuk kepada fenomena sosial. Pemahaman ini mengikuti Kristen dengan memahami agama pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu sendiri pelopornya yang terkemuka Émile Durkheim (Paris, France April 15, 1858 – November 15, 1917) menganggap agama itu hanya gejala sosial, dan yang namanya Tuhan itu hanya ada bagi yang menganggapnya ada. Sehingga, dari metode itu, apapun yang menggejala di masyarakat itulah agama, dan semuanya sah-sah saja. Sehingga antara yang kafir dengan yang mukmin tidak ada bedanya. Hingga arah Pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk menghasilkan manusia-manusia yang pemahaman Islamnya terbalik.

Seharusnya makin dididik itu makin mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, namun sebaliknya justru menyamakan antara yang mukmin dengan yang kafir.  Lebih dari itu justru menjadi pembelaIa orang kafir yang merusak Islam. Contohnya Azyumardi Azra dari UIN Jakarta sangat membela Ahmadiyah ciptaan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Dia tidak sayang terhadap Umat Islam yang dimurtadkan oleh Ahmadiyah, tapi justru lebih sayang kepada Ahmadiyah yang merusak itu. Itulah perusakan Islam yang sebenar-benarnya, bahkan lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik, karena yang dibunuh adalah imannya diganti dengan kemusyrikan baru yang disebut pluralisme agama dan ditingkatkan jadi multikulturalisme. Itulah yang sejatinya pemurtadan, bahkan secara sistematis lewat pendididkan tinggi Islam. Makanya sampai ditulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” (Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta), maksudnya adalah perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Pemurtadan itu menurut Alquran adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari tauhid diganti dengan kemusyrikan atau kekafiran, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan/ kekafiran; maka masuk neraka selama lamanya. Hingga ditegaskan dalam Alquran:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh
. (QS Al-Baqarah: 217).
Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mukmin kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensif dan sistematis, masih pula ditemani secara mesra oleh mereka yang tidak menyayangi iman umat Islam. Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis?

Dengan digalakkannya dua metode pemahaman Islam yang sebenarnya sangat merusak Islam lewat jalur masyarakat umum di satu sisi, dan jalur perguruan tinggi Islam di sisi yang lain, berarti perusakan akidah Islam dilakukan secara sistematis dan menyeluruh.

Di samping itu masih pula ditambah dengan pengaruh gencarnya propaganda Syiah dari Iran ke Indonesia, juga aneka paham liberal yang tidak sesuai dengan Islam. Sehingga, akidah umat Islam Indonesia benar-benar perlu diselamatkan.

Dari sinilah kita menyadari betapa pentingnya untuk mempersiapkan kader-kader mahasiswa yang lurus ilmunya dan teguh agamanya untuk menjadi barisan terdepan dalam menghadapi bahaya perusakan akidah yang dilancarkan secara massif di Indonesia.


Hartono Ahmad Jaiz   
Penulis buku-buku Islam di Jakarta
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com