Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : UJUNG - UJUNGNYA DUIT
Fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta sejak akhir tahun 1970 an hingga kini telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Saudi.
HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.
TANTANGAN DAN SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM
'Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :
Walisongo Islamkan Nusantara - JIN Nusantarakan Islam '
alah satu Tak-Tik dalam Strategi Devide et Impera, yaitu Politik Adu Domba yang dilakukan Penjajah Belanda di Indonesia, adalah membenturkan Hukum Islam dengan Hukum Adat.’uddin.
Toleransi Antar Umat Islam
Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :
Ibnu Taimiyah Dan Ahlul Bait
Kitab Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaami Asy-Syii’ah wa Al-Qoadariyyah adalah karya Asy-Syeikh Ahmad b Abdul Halim b Abdissalam rhm (671 – 728 H) yang masyhur dengan sebutan Ibnu Taimiyah. Kitab tersebut banyak dikaji dan ditakhrij oleh Ulama, salah satunya ditakhriij oleh Muhammad Aiman Asy-Syabroowi, terbitan Darul Hadits – Cairo – Mesir, 4 jlid 8 juz dengan total 2.400 halaman, cetakan tahun 1425 H / 2004 M.
Rabu, 11 Maret 2015
Toleransi Antar Umat Islam
Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
Misionaris Madzhab
Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...
Selasa, 10 Maret 2015
HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA
Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.
Semangat Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk Taqrib (pendekatan antar Madzhab Islam) dan Wihdah (persatuan umat Islam) serta Tasaamuh (Toleransi Antar Umat Islam), tidak hanya terbatas pada tataran wacana, akan tetapi sejak lama sudah menjadi bagian dari perjuangan da’wah mereka.
Bahkan dari kalangan Aswaja pernah lahir fatwa dari seorang Ulama sekelas Syeikh Mahmud Syaltut rhm tentang bolehnya ta’abbud dengan cara madzhab di luar Aswaja, yaitu Madzhab Ja’fari. Dan fatwa serupa juga dikeluarkan oleh Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di kalangan luar Aswaja, karena memang tidak pernah ada seorang Ulama pun yang sekaliber Syeikh Mahmud Syaltut atau Syeikh Ali Jum’ah dari kalangan Non Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Syi’ah atau Wahabi, yang berfatwa tentang bolehnya ta’abbud dengan cara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
ULAMA ASWAJA DAN PERADABAN DIALOG
Sederetan Ulama Ahlus Sunnah pada masa lalu telah membuktikan semasa hidupnya secara terus menerus membangun Peradaban Dialog antar Madzhab dan Firqoh Islam untuk pendekatan dan persatuan, antara lain : Al-Imam Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi rhm, Al-Imam Asy-Syathibi Al-Maliki rhm, Al- serta Imam Al-Ghozali Asy-Syafi’i, hingga Ibnu Taimiyah Al-Hanbali pun di akhir usianya termasuk yang paling semangat menyerukan persatuan melalui Rosaa-ilnya. Rodhiyallaahu ‘anhum.
Lalu dilanjutkan oleh para Ulama Aswaja di abad ini, antara lain : Syeikh Abdul Majid Salim, Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Syeikh Hasanain Makhluf, Syeikh Hasan Al-Banna, Syeikh Mahmud Syaltut, Syeikh Al-Maroghi, Syeikh Al-Fahham, Syeikh Mushthofa Abdur Rozzaq, Syeikh Al-Luban, Syeikh Salim Al-Bisyri, Syeikh Sa’id Hawa, Syeikh Abdul Karim Zaidan, Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, Syeikh Abdul Wahhab Khollaf, Syeikh Anwar Al-Jundi, Syeikh Mushthofa Asy-Syak’ah, Syeikh Salim Al-Bahansawi, Syeikh Abdul Muta’al Al-Jabri, Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Rohimahumullaahu Ta’aalaa.
Hingga masa kini pun, keseriusan para Ulama Ahlus Sunnah dalam membangun Peradaban Dialog untuk membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, masih terus ditunjukkan oleh sederetan Tokoh Ulama Aswaja kelas dunia seperti Syeikh Wahbah Zuhaili, Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, Syeikh Ali Jum’ah, Syeikh Muhammad Ath-Thayyib, dan lain sebagainya. Bahkan jauh sebelum itu, para Ulama Besar Ahlus Sunnah wal jama’ah dari berbagai madzhab telah mengingatkan tentang Bahaya Takfir antar kaum muslimin dan pentingnya Toleransi antar Madzhab dan Firqoh Islam.
Dan Ulama Habaib dari Hadromaut – Yaman pun tidak ketinggalan dalam membangun Peradaban Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam untuk membanguan Toleransi antar umat Islam, antara lain : Al-Habib Abu Bakar b Abdurrahman Syihab (w : 1341), Al-Habib Muhammad b Ahmad Asy-Syathiri (w : 1331 - 1422 H ) dan Al-Habib Abu Bakar b Ali Al-‘Adani Al-Masyhur ( Lahir : 1365 H / 1946 M )
MU’TAMAR ‘AMMAAN DAN DAUHAH
Keseriusan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk membangun Toleransi Antar Umat Islam semakin hari semakin besar, hingga digelarnya Mu’tamar Sunnah – Syiah – Ibadhi di ‘Amman – Yordania pada November 2004, yang kemudian berlanjut di Dauhah – Qathar pada Januari 2007.
Dalam Mu’tamar Sunnah – Syiah – Ibadhi di ‘Amman – Yordania telah disepakati tiga hal pokok sebagai syarat mutlak dalam membangun Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :
a. Bahwa pengikut madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), serta madzhab Zhohiri, Ja’fari, Zaidi dan Ibadhi adalah muslim, maka dilarang mengkafirkannya. Begitu pula dilarang mengkafirkan pengikut Asy’ari dan Maaturidi, serta pengikut Tashawwuf yang hakiki dan pengikut Salafi yang shahih, karena mereka semua adalah umat Islam.
b. Dilarang berfatwa atas orang yang bukan ahlinya dan setiap madzhab harus mengikuti Metodologi Ijtihad yang diakui dalam madzhabnya, agar tidak lahir fatwa liar yang saling mengkafirkan antar Madzhab Islam.
Selanjutnya dalam Mu’tamar Sunnah – Syi’ah – Ibadhi di Dauhah – Qathar telah disepakati tiga hal pokok lainnya sebagai syarat mutlak untuk mewujudkan Taqrib dan Wihdah kaum muslimin, yaitu :
a. Dilarang menghina atau melecehkan segenap Ahlul Bait Nabi SAW termasuk semua isterinya, dan seluruh shahabat Nabi SAW tanpa terkecuali, serta hal lain yang dimuliakan oleh setiap madzhab.
b. Dilarang melakukan Missionaris Madzhab tertentu di wilayah / negeri madzhab yang lain.
c. Mendorong Ulama dan Umara negeri-negeri Islam untuk menggalakkan Dialog Ilmiah yang berakhlaqul karimah antar Madzhab Islam.
Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...
Sumber : www.habibrizieq.com
TANTANGAN & SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM
Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...
Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :
1. Adanya ”kelompok ekstrim” dari berbagai kelompok Islam yang suka mengkafirkan sesama muslim yang tidak sependapat dengan mereka, sehingga mereka selalu menolak upaya wihdah atau taqrib atau tasaamuh antar madzhab Islam, bahkan dialog pun mereka tolak, karena mereka hanya menganggap madzhabnya saja yang Islam, sedang selainnya kafir.
2. Adanya ”ketidak-tulusan” dari sementara kelompok Islam dalam membangun peradaban dialog, sehingga ada di antara mereka yang menjadikan upaya Wihdah dan Taqrib hanya sebagai peluang untuk menyebar-luaskan paham kelompoknya di tengah kelompok yang lain.
3. Adanya ”kepentingan politik” lokal mau pun global yang sering melakukan menejment konflik antar madzhab melalui operasi intelijen.
4. Adanya ”kesalah-pahaman” terhadap istilah Wihdah dan Taqrib, sebagian orang menganggap bahwa upaya Wihdah atau Taqrib merupakan upaya menyatukan madzhab atau menghilangkan suatu madzhab dan menggiring kaum muslimin ke madzhab tertentu.
5. Kurangnya ”sosialisasi” hasil-hasil Mu’tamar Antar Madzhab ke tingkat akar rumput, sehingga masyarakat awam masih banyak yang tidak paham tentang etika pergaulan lintas aliran dalam Islam yang disepakati oleh Ulama mereka.
SEPULUH SOLUSI
Berangkat dari hasil Mu’tamar Antar Madzhab di ‘Amman dan Dauhah, dan dengan memperhatikan aneka tantangan tersebut di atas, maka minimal ada Sepuluh Solusi yang bisa ditawarkan untuk membangun At-Tasaamuhu bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Tolerasni Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :
1. Semua Madzhab Islam wajib sepakat dalam masalah-masalah Qoth’iyyaat yaitu masalah-masalah Ushuluddin, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Qoth’i, baik secara Wurud mau pun Dilalah.
2. Wajib menghormati perbedaan pendapat dalam masalah-masalah Zhonniyyat yaitu masalah-masalah Furu’uddin atau Ushul Madzhab, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Zhonni, baik secara Wurud mau pun Dilalah atau keduanya.
3. Semua Madzhab Islam harus sepakat bahwa setiap masalah dalam agama Islam, baik dalam masalah Ushuluddin mau pun Furu’uddin, begitu juga Ushul Madzhab, harus memiliki Dalil Syar’i yang mu’tabar, sehingga bisa dipertanggung-jawabkan secara syar’i.
4. Jangan ada pengkafiran dalam masalah apa pun, kecuali kekafiran yang nyata dan terang serta disepakati oleh semua Ulama tentang kekafirannya, seperti mengingkari Keesaan Allah SWT, meyakini ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, menyatakan Al-Qur'an kurang tidak sempurna, menolak kewajiban Sholat Lima Waktu, dan lain sebagainya daripada Ushuluddin.
5. Jangan melecehkan Muqoddasaat Madzhab, yaitu sesuatu yang diagungkan atau dimuliakan suatu madzhab.
6. Jangan ada Missionaris Madzhab tertentu di wilayah / negeri madzhab yang lain, sehingga tidak boleh ada upaya pen-syiah-an atau peng-wahabi-an negeri Sunni, dan sebaliknya tidak boleh ada pen-sunni-an negeri Syiah atau negeri Wahabi.
7. Jangan ada penindasan terhadap suatu madzhab minoritas di mana pun, sehingga semua Madzhab Islam minoritas tetap boleh hidup di negeri madzhab lain yang mayoritas, walau pun madzhab minoritas tersebut tidak boleh dikembangkan atau disebar-luaskan di negeri madzhab lain yang mayoritas tersebut.
8. Menggalakkan Dialog Ilmiah antar Madzhab dan Firqoh Islam secara elegan dan berakhlaqul karimah, dan mengganti istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam.
9. Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam dilakukan dengan Ikhlas dan Tulus tanpa Taqiyah atau kepura-puraan.
10. Sosialisasikan hasil Dialog hingga tingkat akar rumput semua madzhab.
Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...
Sumber : www.habibrizieq.com
Senin, 19 Januari 2015
PARA KHALIFAH BERASAL DARI SUKU QURAISY
Bismillahirrahmanirrahim,,
Sabtu, 17 Januari 2015
Sediakan Wanita Cantik, Karaoke Inul Vista Tangcity Disegel Satpol PP
Warga Protes, Drainase Jalan KH Hasyim Ashari Menganga
Pasalnya, sudah satu bulan proyek tersebut mangkrak. Sedangkan drainase dibiarkan menganga, hingga membahayakan keselamatan pengguna jalan.
"Kondisi ini sudah berlangsung satu bulan. Drainase dibiarkan menganga begitu saja. Alhasil, banyak pengendara yang terperosok ke dalamnya," ujar Ahmad, warga Jalan Alfurqon, Kelurahan Pelawad, Jumat (16/1/2015).
Ahmad berharap, pemerintah bisa melihat langsung kondisi dilokasi, agar bisa meminta pelaksana proyek untuk menuntaskan pekerjaannya.
"Saya berharap galian ini cepat diselesaikan oleh pemerintah. Jangan dibiarkan begitu saja. Khawatir nanti akan semakin banyak korban yang terperosok dilokasi," tambanhya. ( Arsa )
Belasan Tempat Pelacuran di Kampung Ulama Tangerang Dibongkar
Pembongkaran dilakukan karena tempat tersebut melanggar Perda 8/2005 tentang larangan pelacuran.
Puluhan aparat bersama warga setempat yang terjun ke lokasi membongkar sekitar 17 rumah semi permanen yang dijadikan tempat mesum tersebut. Pembongkaran berjalan lancar tanpa perlawanan.
Camat Neglasari Ubaidilah mengatakan, rumah-rumah tersebut disalah gunakan menjadi tempat prostitusi liar sejak tahun 2002.
Sebelumnya telah berkali-kali dilakukan dilakukan penertiban dan penyegelan tapi kembali dibuka.
“Karena itu semua kita robohkan bangunan-nya, supaya tidak bisa lagi digunakan untuk tempat maksiat, Kita malu, ini kan Kampung Ulama. Kita juga kasihan sama anak-anak yang ada di sini,” tukasnya, Jumat (16/1)
Menurutnya, awalnya pemilik tanah, H Aspa mengizikan warga membangun tempat tinggal di sini karena merasa kasihan. Namun seiring berjalannya waktu, mereka membangun tempat prostitusi.
“Mereka mengaku tak punya rumah. Tapi malah dibangun tempat prostitusi dan itu tanpa sepengetahuan pemilik tanah,” tukasnya.
Peziarah Padati Makam Keramat di Tigaraksa
Seyogyanya, acara haul itu dihadiri Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar. Namun, karena ada kegiatan lain. Maka orang nomor satu di Kabupaten Tangerang tidak bisa hadir dan diwakilkan Camat Tigaraksa Mas Yoyon Suryana.
"Salam hangat dari Bupati Tangerang," ujar Mas Yoyon Suryana sebelum membacakan sambutan Bupati Tangerang.
Dalam sambutannya, Mas Yoyon Suryana mengatakan, Nabi Muhammad adalah tauladan umat dengan sifat-sifatnya seperti tablig, siddiq, amanah dan fathonah. "Nabi bukan hanya memberi contoh, tapi juga menjadi contoh," ucapnya.
Terkait Haul Syekh Mubarok, Pemkab Tangerang mengajak para generasi untuk mengambil hikmah dari perjuangan para ulama dalam menyebarkan Agama Islam.
"Syekh Mubarok merupakan ulama yang harus kita doakan agar semua perjuangan dan ibadah beliau dibalas setimpal dari Allah SWT," kata Yoyon.
Yoyon menjelaskan, makam Syekh Mubarok yang terkenal dengan Makam Keramat memang tidak pernah sepi dari peziarah. Kedatangan peziarah bisa dilihat setiap hari. "Tapi kalau malam Jumat peziarahnya lebih banyak dari malam-malam lainnya," katanya.
Peziarah yang berdatangan ke makam keramat Syekh Mubarok bukan hanya berasal dari wilayah Kabupaten Tangerang. "Warga di luar Kabupaten Tangerang juga banyak berziarah di sini. Terlebih pada bulan Maulud seperti ini," tuntasnya.
Di Balik Laju Perusakan Islam di Indonesia
Laju kerusakan akidah di Indonesia lebih cepat dibanding perbaikannya. Di antara faktornya ada dua:
1. Cara memahami Islam di pesantren-pesantren dan masyarakat umum dipotong di tengah jalan, agar tidak sampai pada merujuk kepada Alquran dan As-Sunnah. Caranya, agar cukup dilihat para tokoh agama melakukan atau tidak. Ketika mereka melakukan, berarti itulah agama. Padahal, aneka bid’ah, bahkan kesesatan, yang kemungkinan sampai tingkat syirk akbar dilakukan oleh para tokoh agama. Akibatnya, laju kesesatan lebih cepat dan berkembang dibanding dakwah shahihah, apalagi dakwah yang membendung kesesatan.
2. Cara memahami Islam di tingkat perguruan tinggi yang berlabel Islam dialihkan dari merujuk kepada dalil menjadi merujuk kepada fenomena sosial. Pemahaman ini mengikuti Kristen dengan memahami agama pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu sendiri pelopornya yang terkemuka Émile Durkheim (Paris, France April 15, 1858 – November 15, 1917) menganggap agama itu hanya gejala sosial, dan yang namanya Tuhan itu hanya ada bagi yang menganggapnya ada. Sehingga, dari metode itu, apapun yang menggejala di masyarakat itulah agama, dan semuanya sah-sah saja. Sehingga antara yang kafir dengan yang mukmin tidak ada bedanya. Hingga arah Pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk menghasilkan manusia-manusia yang pemahaman Islamnya terbalik.
Seharusnya makin dididik itu makin mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, namun sebaliknya justru menyamakan antara yang mukmin dengan yang kafir. Lebih dari itu justru menjadi pembelaIa orang kafir yang merusak Islam. Contohnya Azyumardi Azra dari UIN Jakarta sangat membela Ahmadiyah ciptaan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Dia tidak sayang terhadap Umat Islam yang dimurtadkan oleh Ahmadiyah, tapi justru lebih sayang kepada Ahmadiyah yang merusak itu. Itulah perusakan Islam yang sebenar-benarnya, bahkan lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik, karena yang dibunuh adalah imannya diganti dengan kemusyrikan baru yang disebut pluralisme agama dan ditingkatkan jadi multikulturalisme. Itulah yang sejatinya pemurtadan, bahkan secara sistematis lewat pendididkan tinggi Islam. Makanya sampai ditulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” (Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta), maksudnya adalah perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Pemurtadan itu menurut Alquran adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari tauhid diganti dengan kemusyrikan atau kekafiran, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan/ kekafiran; maka masuk neraka selama lamanya. Hingga ditegaskan dalam Alquran:
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]
dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)
وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]
Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).
عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)
Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mukmin kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).
Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensif dan sistematis, masih pula ditemani secara mesra oleh mereka yang tidak menyayangi iman umat Islam. Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis?
Dengan digalakkannya dua metode pemahaman Islam yang sebenarnya sangat merusak Islam lewat jalur masyarakat umum di satu sisi, dan jalur perguruan tinggi Islam di sisi yang lain, berarti perusakan akidah Islam dilakukan secara sistematis dan menyeluruh.
Di samping itu masih pula ditambah dengan pengaruh gencarnya propaganda Syiah dari Iran ke Indonesia, juga aneka paham liberal yang tidak sesuai dengan Islam. Sehingga, akidah umat Islam Indonesia benar-benar perlu diselamatkan.
Hartono Ahmad Jaiz
Penulis buku-buku Islam di Jakarta






















