- Muhammadiyyah (1912) mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin/Mu’allimat, Muballighin/Muballighat dan Madrasah Diniyah
- Al-Irsyad (1913), mendirikan Madrasah Awaliyah, Madrasah Ibdtidaiyah, Madrasah Tajhiziyah, Muallimin dan Tahassis.
- Matlaul Anwar di Menes Banten mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Diniyah.
- Pesatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) (1928) mendirikan madrasah dengan berbagai nama, diantaranya Madrasah Tarbiyah Islamiyah, Madrasah Awaliyah, Tsanawiyah, Kuliyah Syariah.
- Nahdhatul Ulama (1926) mendirikan Madrasah Awaliyah, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin Wustha dan Muallimin Ulya. (Shaleh, 2004:20)
HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : UJUNG - UJUNGNYA DUIT
Fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta sejak akhir tahun 1970 an hingga kini telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Saudi.
HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB : TOLERANSI ASWAJA
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang zaman tidak pernah berhenti mengkritisi segala bentuk penyimpangan Firqoh di luar Aswaja, dengan cara ilmiah dan penuh hikmah. Ulama Aswaja tidak pernah menutup pintu Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, bahkan Dialog Lintas Agama sekali pun telah sejak lama menjadi bagian Da’wah penting Aswaja.
TANTANGAN DAN SOLUSI TOLERANSI ANTAR UMAT ISLAM
'Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :
Walisongo Islamkan Nusantara - JIN Nusantarakan Islam '
alah satu Tak-Tik dalam Strategi Devide et Impera, yaitu Politik Adu Domba yang dilakukan Penjajah Belanda di Indonesia, adalah membenturkan Hukum Islam dengan Hukum Adat.’uddin.
Toleransi Antar Umat Islam
Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :
Ibnu Taimiyah Dan Ahlul Bait
Kitab Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaami Asy-Syii’ah wa Al-Qoadariyyah adalah karya Asy-Syeikh Ahmad b Abdul Halim b Abdissalam rhm (671 – 728 H) yang masyhur dengan sebutan Ibnu Taimiyah. Kitab tersebut banyak dikaji dan ditakhrij oleh Ulama, salah satunya ditakhriij oleh Muhammad Aiman Asy-Syabroowi, terbitan Darul Hadits – Cairo – Mesir, 4 jlid 8 juz dengan total 2.400 halaman, cetakan tahun 1425 H / 2004 M.
Selasa, 06 Januari 2015
Menguak Sejarah Madrasah di Indonesia (4)
Menguak Sejarah Madrasah di Indonesia (3)
Menguak Sejarah Madrasah di Indonesia (2)
Menguak Sejarah Madrasah di Indonesia (1)
Protes Tayangan King Suleiman, KMJ akan Datangi ANTV
Minggu, 04 Januari 2015
Supermal Karawaci Tidak Ramah Pada Umat Islam
PTUN Serang Banten Resmi Membatalkan IMB Gereja Santa Bernadeth
SATU MILYAR DARI FPI UNTUK RUMAH SAKIT INDONESIA DI GAZA
Sabtu, 03 Januari 2015
Presiden Jokowi Ajak Umat Islam Teladani Sifat Nabi Muhammad SAW
Jumat, 02 Januari 2015
Revolusi Akhlak versus Revolusi Mental
Imam Besar FPI
Revolusi akhlak dan revolusi mental dua hal yang serupa tapi tak sama. Dikatakan serupa karena masalah akhlak sering dikaitkan, bahkan terkadang diidentikkan dengan persoalan mental.
Namun jika dikaji dengan lebih mendalam dan cermat, ternyata akhlak dan mental adalah dua hal yang amat berbeda, bahkan saling bertolak belakang dan berlawanan serta bertentangan.
Revolusi akhlak adalah visi misi kenabian yang dibawa Rasulullah Saw, sebagaimana beliau pernah sabdakan :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
"Sesungguhnya aku telah diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlak."
Sedang revolusi mental adalah istilah yang dipopulerkan oleh Karl Marx dalam mempropagandakan ajaran sosialis dan komunisnya. Dan istilah "Revolusi Mental" pernah dijadikan jargon Partai Komunis Indonesia (PKI) saat kampanye politiknya dalam Pemilu Pertama di Indonesia pada tahun 1955.
Kaum Atheis, baik dari kalangan Marxisme atau Leninisme mau pun Komunisme, menilai bahwasanya agama adalah belenggu bagi kebebasan mental manusia. Dalam pandangan mereka bahwa keyakinan akan adanya Tuhan adalah perbudakan bagi jiwa manusia. Karenanya, manusia harus membebaskan jiwanya dari perbudakan Tuhan melalui revolusi mental, sehingga jiwanya terlepas dari segala belenggu keagamaan dan ketuhanan.
Kaum kiri di seluruh dunia hingga zaman sekarang ini masih berprinsip bahwasanya manusia hanya bisa maju jika telah berhasil membebaskan mentalnya dari kungkungan ajaran agama apa pun. Itulah maksud revolusi mental yang sebenarnya.
Bahkan kaum liberal di seluruh dunia pun saat ini sedang menggandrungi istilah revolusi mental. Sepintas lalu, ini hanya sebuah istilah, tapi sebenarnya ini adalah perang terminologi antara Islam di satu pihak dengan revolusi akhlaknya dan Komunis bersama liberal di pihak lain dengan revolusi mentalnya.
Kini pertanyaan penting dan gentingnya adalah : "Revolusi Mental" yang dicanangkan Jokowi sejak saat kampanye hingga kini, maksudnya apa dan arahnya kemana ???
Wallaahu A'lam


















